Memahami Islam

Alfatih-media.com-Tetangga sebelah yang rumahnya berdempetan dengan rumah saya, tiap kali membuat miehun goreng yang gurih, pasti mengantar terlebih dahulu sepiring ke rumah saya sebelum keluarga itu mencicipinya. Begitu juga kalau suaminya pulang dari luar kota membawa oleh-oleh, saya mendapat bagian yang banyaknya seperti yang tidak saya sangkakan, tidak cukup sekadar tanda.

Mengapa begini, karena ajaran Islam menganjurkan demikian. Aroma miehunnya sampai bukan saja ke dapur, tetapi sampai ke kamar saya, makanya ada hak saya menikmati miehun tersebut. Walau hak yang saya miliki tak sebesar kewajiban menunaikan zakat atau salat. Tentunya hal ini sangat dipahami tetangga saya yang tak pernah kelihatan auaratnya oleh saya dan tetangga lainnya.

Dulu waktu saya kecil, atok laki-laki kalau berbelanja ke pasar membawa goni gandum untuk tempat belanjaannya. Tetangga tidak tahu apa yang dibeli atok. Jadi apa lauk kami siang dan malam tak ada tetangga yang mengetahui. Yang bermasalah kalau membeli durian atau cempedak, bau buah-buahan ini tak dapat dirondokkan. Tapi syukurnya pada musim dua buah ini, harganya sangat murah, sehingga siapapun bisa membelinya. Jadi tidak akan terjadi kecemburuan sosial. Hak-hak tetangga pun berguguran dalam hal ini.

Perbuatan-perbuatan baik di atas dalam Islam disebut sebagai kewajiban ghairu mahdhah. Perbuatan baik, yang tak ada larangan, dan dapat dilakukan tidak ada keharusan waktu dan ruang serta sarat lainnya.

Beda dengan kewajiban mahdhah, yaitu kewajiban personal ataupun yang disebutkan sebagai fardhu ain dan fardhu kifayah.

Hal diatas termasuk dalam kesalehan personal dari ghairu mahdhah yang dampaknya bisa membahagiakan orang lain. Menunjukkan rasa syukur yang mendalam. Bila dikaitkan dengan sebuah hadist, belum beriman dikatakan seorang Islam, sebelum ia mampu merasakan penderitaan saudaranya sebagai penderitaannya juga. Maka perbuatan baik boleh dilakuakan dengan semacam jihad juga. Tentunya Allah Swt sangat mencintai orang-orang yang berbuat baik.

Memahami Islam tidak bisa memang sekerat-sekerat. Misalnya puasa yang bila dipandang  sebagai menyakiti diri. Tentunya hal ini bertentangan dengan syariat yang sangat bersesuaian dengan ilmu kesehatan. Dalam puasa, rongga perut mengalami pembersihan, baik secara makrifat maupun hakikat. Perut yang telah sebelas bulan mengalami pengotoran, dibersihkan selama berpuasa.

Berzakat dan bersedekah, mengeluarkan zakat harta dan zakat penghasilan tidak membuat miskin. Sebagaimana tubuh manusia harus dibersihkan dengan mandi, maka harta yang dimiliki dibersihkan dengan zakat dan sedekah.

*Nevatuhella, esais/kolumnis

Latest Articles

Comments