Masuk Surga Itu Mudah

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc

Alfatih-media.com- Membaca judul di atas, mungkin pembaca sedikit gelisah atau protes. Seolah-olah, penulis terlalu percaya diri menyatakan bahwa masuk surga itu mudah. Apa benar seperti itu? Untuk menjawab dugaan tersebut, mari sama-sama kita baca hadis Rasulullah SAW yang bersumber dari Abu Abdillah, Jabin Ibn Abdullah al-Anshari ra: bahwa seorang laki-lali bertanya kepada Rasulullah SAW., ‘Beritahukanlah kepadu, ketika aku melaksanakan shalat wajib, berpuasa di bulan Ramadhan, melakukan yang halal, menjauhi yang haram, dan tidak menambah apa pun dari itu, apakah aku akan masuk surga?’ Rasulullah SAW bersabda: “Ya”. (HR. Muslim)

Pengakuan Rasulullah SAW tersebut menunjukkan kepada kita bahwa masuk surga itu, ternyata, mudah. Cukup dengan melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dan mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah, maka tiket masuk surga sudah ada di tangan kita. Tiket tersebut hanya diberikan Allah kepada orang yang beriman kepada Allah SWT dengan totalitas serta istiqomah dalam mendirikan shalat fardhu, berpuasa di bulan Ramadhan, melakukan aktivitas yang halal, bersungguh-sungguh menjaga diri dari yang haram, dan meninggalkan segala hal yang masih ragu status kebolehannya. Itu pesan hadis Rasulullah SAW di atas.

Untuk memperkuat pemahaman di atas, kita juga layak membaca hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari Ibnu Al-Muntafiq yang berkata bahwa ia mendatangi Rasulullah SAW ketika berada di Arafah lalu aku bertanya kepada Beliau, “Ada dua hal yang kutanyakan; apa yang bisa menyelamatkanku dari neraka dan apa yang bisa memasukkanku ke dalam surga? Rasulullah SAW. menjawab, “Jika kamu membatasi pertanyaanmu dalam masalah ini, sungguh kamu telah menanyakan perkara yang penting dan jalan untuk menempuhnya pun penjang.

Karena itu, pahamilah; sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, kerjakanlah shalat, bayarlah zakat, berpuasalah pada bulan Ramadhan. Apa yang kamu suka jika orang-orang melakukan hal itu kepadamu maka lakukanlah hal itu kepada mereka. Dan, apa yang kamu benci jika orang-orang melakukan hal itu kepadamu, maka janganlah kamu melakukan hal itu kepada mereka.”

Tanda Iman kepada Allah

Jika pondasi dasar masuk surga adalah iman kepada Allah baru kemudian melakukan ibadah-ibadah yang diajarkan di dalam hadis di atas, maka pertanyaannya seperti apa tanda iman kepada Allah? Tanda iman kepada Allah bukan sekedar percaya bahwa Allah itu Esa. Allah itu pemberi rezeki. Allah yang menciptakan alam semesta ini. Tapi, belajarlah tanda iman kepada Allah lewat apa yang diucapkan para sahabat saat ditanya oleh Rasulullah SAW.

“Selesai shalat Shubuh, para sahabat Rasulullah duduk berkumpul. Tiba-tiba didatangi oleh Rasulullah SAW. dan ditanya, “Bagaimana kabar kalian pagi ini?” Para sahabat menjawab, ‘Kabar kami beriman kepada Allah SWT?’ Lalu Rasulullah SAW bertanya kembali, “Apa tanda iman kamu kepada Allah SWT?” Para sahabat kembali menjawab dengan mengatakan, ‘Kami senantiasa sabar saat diuji, kami senantiasa bersyukur saat diberi ketenangan dan kami senantuasa ridha atas apa yang ditetapkan Allah SWT.’

Bila tanda iman kepada Allah SWT sudah dimiliki, maka istiqomahlah menjaga tanda iman tersebut serta istiqomah pula melakukan ibadah-ibadah yang disetujui Rasulullah sehingga kita bisa masuk ke dalam surga-Nya. Sebab mustahil Rasulullah SAW berdusta. Apalagi, Allah SWT sudah meligitimasi di dalam al-Qur’an bahwa apa yang diucapkan Muhammad bin Abdullah adalah wahyu. Allah SWT berfirman, “Dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. Al-Najm [53]:3-4)

Di dalam al-Qur’an, Allah SWT. sudah mengingatkan bahwa Dia tidak akan pernah menyulitkan hamba-Nya. Tapi terkadang hamba-Nya sendiri yang membuatnya menjadi sulit. Di surat Al-Al-Baqarah ayat 185 Allah SWT berfiman, “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu...”. 

Oleh karena itu, istiqomahlah kita beribadah kepada Allah sembari memohon kepada-Nya agar jangan ditutup-Nya hati kita sehingga menjadi malas beribadah kepada-Nya. Allah SWT berfirman, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 45-46)

Ketika kita sudah meyakini bahwa kita akan menemui Allah dan kembali kepada-Nya, secara otomatis kita bakal menjauhkan diri dari melakukan yang dilarang dan diharamkan-Nya. Sebab tidak akan mungkin bisa ketemu dengan-Nya jika kita masih suka melakukan yang dilarang. Artinya, jika kita menjauhi segala hal yang mengandung dosa, maka kita berpeluang besar bertemu dengan-Nya. Dan, bertemu dengan Allah hanya bisa dilakukan di dalam surga.  Sebagaimana dijelaskan di dalam al-Qur’an,

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosa yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (QS. An-Nisa [4]: 31)

Oleh karena itu, jangan pernah meninggalkan ibadah-ibadah yang difardhukan, biar masuk ke dalam surga. Jangan pernah menghalalkan yang haram, baik makanan, perbuatan, maupun perkataan, biar masuk ke dalam surga. Apalagi, Agama sudah mengajarkan kepada kita tentang apa saja yang haram dan apa saja yang halal untuk dimakan, diucapkan, diperbuat dan diyakini. 

Untuk masalah-masalah yang baru, yang belum ada di zaman Rasulullah SAW. dan para sahabatnya, tanyakanlah kepada para ulama.

Sebab ulama dalam menetapkan hukum sudah pasti merujuk kepada al-Qur’an dan Sunnah. Jika pun mereka menggunakan dalil-dalil analogi (qiyas), al-mashaalih al-mursalah, istihsan dan lain sebagainya, tetap saja kajian awalnya bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah. Semoga kita mampu melaksanakan segala yang perintahkan agama dan mampu menjauhi segala hal yang dilarang. (Penulis adan Sekretaris Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kota Medan)

 

Latest Articles

Comments