Mahasiswa Bisa Jadi Solution Maker Masalah Pemilu

MEDAN (alfatih-media.com)-Mahasiswa antropologi penting untuk ikut aktif berpartisipasi dalam pemilu kali ini. Selain, bisa menjadi “solution maker” terhadap persoalan di kepemiluan, bagi mahasiswa antropologi sendiri, pemilu 2019 bisa menjadi laboratorium bagi antropolog.

Hal itu disampaikan oleh Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Medan, M. Rinaldi Khair  saat sosialisasi KPU Medan Goes to Campuss di Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Universitas Negeri Medan (Unimed), Rabu (07/11).

Menurutnya, fenomena terbentuknya kelompok-kelompok baru atau institusi baru di masyarakat selama tahun politik akan menjadi bahan pelajaran yang menarik untuk diteliti. Karena setiap kelompok maupun institusi yang terbentuk, baik itu pembentukannya berdasarkan kepentingan maupun beralaskan kekerabatan, seakan-akan ikut terlibat dalam kontestasi dalam pembentukan opini di masyarakat. Sehingga, tidak jarang muncul kelompok "kami" dan kelompok "kamu".

Fenomena ini terjadi di Pemilu 2019 dan masih memerlukan kajian yang lebih mendalam apakah sifatnya destruktif atau malah konstruktif untuk pengembangan demokrasi di Indonesia.

"Itu semua bisa dijawab dengan pendekatan kajian antropologi. Karena itu penting bagi mahasiswa antropologi untuk ikut aktif berpartisipasi dalam pemilu kali ini. Kalian suatu saat bisa menjadi solution maker terhadap persoalan di kepemiluan," kata Koordinator Bidang Teknis Penyelenggaraan Pemilu KPU Medan itu.

Dalam kesempatan itu Rinaldi juga mensosialisasikan terkait data pemilih. Setiap mahasiswa diajak simulasi untuk memeriksa apakah sudah terdaftar atau belum. Selain itu disosialisasikan juga terkait pindah memilih dengan formulir A5 yang sudah bisa diurus mulai saat ini hingga Maret 2019 mendatang. 

Ketua Program Studi Antropologi (Prodi) FIS Unimed Dr Rosramadhana MSi berterimakasih kepada KPU Medan yang berkenan bekerjasama dengan Prodi Antropologi FIS Unimed dalam sosialisasi Pemilu 2019. Menurutnya, sangat penting bagi mahasiswa dalam mengetahui dan mengamati secara utuh terkait tahapan pemilu yang berlangsung serta berpartisipasi aktif dalam menegakkan kedaulatannya. 

“Apalagi di prodi yang dipimpinnya ada mata kuliah Antropologi Politik. Untuk itu kami minta diikuti dan didengarkan dengan baik sosialisasi ini," ujarnya.

Antusiasme peserta sosialisasi sangat tampak saat dibuka sesi tanya jawab. Tercatat da 7 mahasiswa yang bertanya berbagai hal terkait kepemiluan. Salah satunya Ezra yang mengaku bingung mengapa Indonesia belum bisa menerapkan sistem pemilu online yang murah dan praktis. Sehingga tidak akan ada lagi pendataan pemilih yang bermasalah. (ef)

 

Latest Articles

Comments