Logika Beragama dan Pluralisme

Oleh: Nevatuhella

Tuhan dalam Islam dipercaya hanya ada satu di jagat alam raya. Dengan kepercayaan ini maka Islam tidak mempercayai tuhan-tuhan yang lain (mungkin dalam agama lain pun bisa demikian juga sebaliknya). Dewa, dewi atau apapun namanya. Kepercayaan akan adanya hanya satu Tuhan ini dicantumkan didalam bab Aqidah, sebagai ruh dari Islam. Seorang dikatakan Islam cukup hanya mengucap dua kalimah syahadat, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah”. Maka sudah Islam-lah seseorang itu.

Kemudian sebagai makhluk fisik yang berakal dan berperasaan, maka Allah Swt menurunkan Al-Quran sebagai penuntun dalam menjalani kehidupan. Ada juga nabi diangkat untuk menuntun manusia juga. Kemudian ada Fiqih, yang menuntun manusia hidup bersih dan sehat. Mengatur cara beribadah dan perkawinan. Ada aturan jual beli (muamalah). Kemudian ada Akhlak. Penuntun untuk hidup terorganisir dan berdisiplin untuk setiap saat membangun peradaban. Akhlak bukan hanya diperlakukan terhadap sesama manusia, tapi juga akhlak terhadap alam dan hewan.

Dalam konteks keberagaman atau pluralisme yang diartikan sebagai semua agama benar, sama kedudukannya, sudah pasti Islam menolak keberagaman dengan definisi ini. Sebab kalau terjadi seorang penganut Islam membenarkan ada Tuhan lain selain Allah Swt yang dipercayainya sebagai satu-satunya Tuhan yang ada, maka orang ini sudah di cap sesat (kafir, ingkar) dalam Islam.

Ia wajib bertaubat dan bersyahadat kembali. Seseorang murtad atau keluar dari Islam, memeluk atau tidak memeluk agama lain, tidak ada suruhan untuk menyerang atau menganiayanya. Apalagi terhadap orang-orang yang sudah sejak lahir tidak Islam. Contoh paling dekat dalam kehidupan sehari- hari kita di Sumatera Utara. Masyarakat  dengan beda agama dan adat istiadat, hidup rukun bertetangga dengan baik dan harmonis. Perlu diingat, di Sumatera Utara Islam adalah penduduk mayoritas.

Lantas bagaiman Islam mengajarkan sikap terhadap orang lain yang bukan Islam? Yang tentu mempercayai ada Tuhan sebagai sembahannya? Saya sebutkan cerita di bawah ini.

Bahwa pada suatu waktu seorang sahabat Rasullulah bertempat tinggal di sebuah rumah yang mempunyai dua lantai. Di lantai satu tinggal sahabat Rasullulah dan di lantai dua tinggal seorang Yahudi.

Rupa-rupanya lantai atas kediaman Yahudi bocor sedikit yang menyebabkan, sahabat Rasullulah menyediakan ember menampung bocoran air setiap kali hujan. Begitulah bertahun-tahun sampai pada suatu hari, tetangga sahabat Rasullulah, yang Yahudi mengetahui kalau-kalau selama ini tetangganya yang Muslim telah melakukan pekerjaan yang mulia. Tetangga yang Yahudi terharu, ia langsung memeluk Islam.

Nah, dari cerita di atas, wajah Islam yang mana yang menakutkan seperti yang selalu disebut-sebut. Islam teroris, menganggap benar sendiri, dan sangat mudahnya mengkafirkan orang lain. Kalau ada yang demikian tentu orang-orang seperti ini sudah menyimpang dari agama Islam. Masalah terorisme sudah merupakan masalah yang kompleks. Tidak semata soal agama, tetapi lebih-lebih kepentingan kelompok terhadap materi dan kemajuan teknologi yang punya misi menjual senjata-senjata perang yang sudah ada, dan produk-produk teknologi lainnya yang penganut Islam tidak memerlukannya. Untuk apa sih bom berkepala nuklir bagi agama, kecuali untuk mendatangkan kesengsaraan?

Islam hadir untuk menyempurnakan akhlak manusia yang sudah super bejat saat Nabi Muhammad Saw diangkat menjadi Rasul di tanah suci Mekkah. Sampai sekarang pun risalah Islam tidak berubah. Tetap saja akhlak menjadi dasar untuk membangun manusia yang berbudi luhur dan mempunyai misi membangun peradaban yang tidak merusak alam dan lingkungannya. Islam mengajarkan keberagaman dalam arti yang luas, bahwa di bumi dan alam ini begitu beragamnya pola-pola hidup makhluk yang sesungguhnya bertujuan mempertahankan hidup masing-masing. Malangnya makhluk yang namanya manusia rakus dan zalim terhadap sesamanya. Ada kijang di dalam hutan yang menjadi makanan harimau. Kita pun manusia, menjadi pemakan ayam dan itik. Keberagaman dalam Islam tidak bisa misalnya disamakan dengan keberagaman menurut definisi agama atau kelompok lain. Dan apa ruginya bagi pemeluk agama lain seandainya Tuhan yang dipercayainya tidak dipercayai pemeluk Islam, dan sebaliknya.

Satu hal yang sangat-sangat perlu diketahui oleh orang-orang non-Islam, bahwa Islam mengajarkan adanya kewajiban personal dan komunal. Dua kewajiban ini disebut sebagai kewajiban fardhu ain dan fardhu kifayah.

Kemudian, persoalan yang saat ini muncul masalah hubungan sesama manuisa yang berbeda agama, di gemborkan sebagai pemicu terjadinya kerusuhan atau perkelahiaan. Islam Radikal diperkenalkan sebagai kelompok Islam yang selalu mengganggu keamanan.

Kita semua mengetahui, kalangan pengamat mengatakan bahwa orang-orang barat (yang non Islam) sangat menyenangi orang Islam Indonesia. Tetapi mereka sangat-sangat tidak suka pada Islam, pada system yang ada dalam ajaran Islam, yang anti riba, anti demokrasi, anti minuman keras, anti pelacuran, dan anti nihilisme. Mereka memusuhi Islam sebagai agama. Apa sebabnya mereka menyukai orang Islam Indonesia termasuk intelektualnya, karena orang Islam yang mereka kenal adalah orang-orang Islam yang sangat tolerir. Sangat suka dan memang aneh, mengumbar dengan seenak udelnya rasa toleransinya.

Contoh sederhana, dimana-mana umat Islam suka makanan siap saji, atau makanan instan, produk yang berasal dari barat. KFC, pizza, sosis, nugget, misalnya, atau mie instan yang tak dikenal dalam teradisi makan orang Islam Indonesia. Terlebih lagi penyedap Mono Sodium Glutamat (MSG). Barang-barang mewah juga menjadi idaman orang-orang Islam. Padahal Islam tidak membenarkan demikian. Cara mencuci makanan yang akan dimasak saja di ajarkan Islam dengan cara-cara yang mengandung muatan sariat. Memotong hewan dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim, allahuakbar; subhanallah. Mencuci pakaian harus disyaratkan di air yang mengalir, atau membilas cucian dengan guyuran air. Yang paling mendasar lagi dalam Islam bagi perempuan-perempuan yang habis datang bulan dan melahirkan diwajibkan mandi besar, dengan menyampaikan air keseuruh tubuh. Ini kewajiban (fardhu ain). Tidak bisa sholat atau puasa perempuan-perempuan ini sebelum mereka mandi besar dahulu.

Jadi banyak memang perbedaan antara Islam dan agama lain. Walau banyak juga persamaan-persamaan menyangkut masalah duniawi dan kebutuhan untuk sama-sama mempertahankan hidup. Semua manusia membutuhkan makanan, lingkungan yang sehat, air bersih dan tanah. Jadi apabila hal ini disadari maka seseungguhnya tidak ada persoalan menyangkut keyakinan seseorang dengan Tuhannya.

Islam mempunyai 5 rukum Islam dan 6 rukun Iman. Salah satu rukun Iman menyatakan bahwa seorang Islam wajib percaya pada adanya hari akhirat. Hari akhirat lebih penting dari pada masa hidup di dunia yang singkat ini. Mungkin kepercayaan ini bisa menjadi tertawaan orang di luar Islam. Padahal lebih mementingkan hari akhirat ini bukan berarti orang Islam tak dibolehkan mengenyam kehidupan bahagia selama hidup di atas bumi ini. Memiliki harta dan keturunan yang sehat-sehat.

 

*Nevatuhella, esais, kolumnis. Lahir di Medan, 1961. Alumnus Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara. Buku ceritanya yang telah terbit Perjuangan Menuju Langit (2016), Bersampan ke Hulu (2018) dan satu buku puisinya Bila Khamsin Berhembus (2019).

 

Latest Articles

Comments