Lafal Istighfar yang Biasa Dibaca Imam Ahmad bin Idris

Alfatih-media.com-Dalam kitab Abwabul Faraj, Sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki menyebutkan bahwa di antara lafadz istighfar agung yang biasa dibaca oleh Imam Ahmad bin Idris adalah sebagai berikut;

أَسْتَغْفِرُ الله العَظِيْم الّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ غَفَّارُ الذُّنُوبِ ذُو الْجَــلاَلِ وَ الإِكْرَامِ وَ أَتُوْبُ إِلَيْهِمِنْ جَمِيْعِ

المَعَاصِى كُلِّهَا وَ الذُّنُوبِ وَ الآثاَمِ وَمِنْ كُلِّ ذَنْبٍ أَذْنَبْتُهُ عَمْدًا وَخَطَأً, ظاهرا وباطنا قَوْلاً وَفِعْلاً فِى جَمِيْعِ حَرَكاَتِى

وَسَكَنَاتِى وَخَطَرَاتِى وَأَنْفَاسِيى كُلِّهَا دَاِئمًا أَبَدًا سَرْمَدًا مِنَ الذَّنْبِ الَّذِىأَعْلَمُ مِنَ الذَّنْبِ الَّذِى لاَ أَعْلَم عَدَدَ مَا أَحَاطَ

بِهِ الْعِلْمُ وَأَحْصَاهُ الكِتَابُ وَخَطَّهُ الْقَلَمُ وَعَدَدَ مَا أَوْجَدَتْهُ الُقْدرًةُ وَخَصَّصَتْهُ الإرَادَةُ وَمِدَادَ كَلِمَاتِ اللهِ كَمَا يَنْبَغِى

لِجَلاَلِ وَجْهِ رَبِّنَا وَجَمَالِهِ وَكَمَالِهِ وَ كَمَا يُحِبُّ رَبّـُنَا وَيَرْضَى.

Astaghfirullohal ‘adzim allazi la ilaha illa huwal hayyul qyyuum, ghaffarudz dzunubi, zul jalali wal ikram, wa atubu ilaihi min jami’il ma’ashi kulliha wadz dzunubi wal atsam, wa min kulli zanbin aznabtuhu ‘amdan wa khatha-an, dzahiran wa bathinan, qaulan wa fi’lan, fi jami’i harakati wa sakanaati wa khatharati wa anfasi kulliha, da-iman abadan sarmadan minaz zanbillazi a’lamu, wa minaz zanbillazi la a’lamu, ‘adada ma ahatha bihil ilmu wa ahshohul kitabu wa khoththohul qalamu, wa ‘adada ma aujadathul qudratu wa khoshashothul iradatu, wa midada kalimaatillahi kama yanbaghi lijalali wajhi rabbina wa jamalihi wa kamalihi wa kama yuhibbu rabbuna wa yardha.

“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup abadi lagi terus menerus mengurusi makhluk-Nya, Yang Mengampuni segala dosa, Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan. Aku bertaubat kepada-Nya dari semua kemaksiatan seluruhnya, dosa-dosa dan kesalahan, dari semua dosa yang aku kerjakan baik secara sengaja maupun karena keliru, baik zahir maupun batin, baik berupa ucapan maupun perbuatan, dalam semua gerak-gerikku, diamku, bisikan hatiku, dan tarikan nafasku seluruhnya, selama-lamanya, dari dosa-dosa yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui, sejumlah bilangan apa yang dijangkau pengetahuan Allah dan tercatat oleh qalam (pena)-Nya, sejumlah bilangan apa yang diadakan oleh Qudrat-Nya dan ditentukan oleh Iradat-Nya, serta sejumlah minyak (yang dipakai menulis) kalimat-kalimat-Nya. Sepatutnyalah (kesemuanya itu) bagi keagungan, keelokan dan kesempurnaan Zat Tuhan kami, dan sebagaimana yang dicintai dan disukai Tuhan kami.

(sumber:bincangsyariah)

Latest Articles

Comments