Kurangi Kecelakaan, PT KAI Divre I SU Sosialisasi Di Perlintasan Sebidang

MEDAN (alfatih-media.com)-Peran serta masyarakat terhadap keselamatan perkeretaapaian sangat di butuhkan, terutama dalam hal mentaati dan patuh terhadap rambu-rambu di perlintasan sebidang dengan jalur kereta api. Dimana, masyarakat harusnya lebih memprioritaskan perjalanan kereta api, tidak mendirikan bangunan di daerah jalur kereta api dan tidak menempatkan atau meletakkan barang berbahaya di jalur kereta api.

Namun faktanya, selama ini masyarakat jarang memprioritaskan perjalanan kereta api di perlintasan sebidang. Akibatnya, perlintasan sebidang menjadi salah satu titik yang sering terjadi kecelakaan. Melihat fakta tersebut, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divre I SU bersama-sama Railfans melakukan sosialisasi di perlintasan sebidang yaitu perlintasan JPL No. 02 Km 0 + 690 Lintas Medan  Belawan/Medan  Binjai, Jum’at (28/2/2020).

Manager Humas PT KAI (Persero) Divre I SU M.Ilud Siregar menyebutkan, KAI Divre I SU mencatat terdapat 98 perlintasan sebidang yang resmi dan 276 perlintasan sebidang yang tidak resmi. Sedangkan perlintasan tidak sebidang baik berupa fly over maupun underpass berjumlah 7.

Kemudian lanjutnya, jumlah kecelakaan terjadi sebanyak 108 kali di tahun 2019. Jumlah kecelakaan itu masing-masing 6 kali kejadian di perlintasan resmi dan 50 kali di perlintasan tidak resmi, serta 36 kali pejalan kaki dan 16 hewan ternak di daerah ruang maanfaat jalur kereta api.

“Untuk tahun 2020, dari mulai awal bulan Januari hingga saat ini, kami sudah mencatat ada 18 kejadian di perlintasan resmi dan 8 kali kejadian di perlintasan tidak resmi, pejalan kaki 6 kali kejadian serta hewan ternak ada 2 kali kejadian di ruang manfaat jalur kereta api,”sebutnya kepada wartawan di sela-sela sosialiasi di perlintasan sebidang di jalan JPL No. 02 Km 0 + 690 Lintas Medan  Belawan/Medan  Binjai, kemarin.

Dia mengatakan, salah satu tingginya angka kecelakaan pada perlintasan juga kerap terjadi lantaran tidak sedikit para pengendara yang tetap melaju meskipun sudah ada peringatan melalui sejumlah rambu yang terdapat pada perlintasan resmi.

Untuk itu katanya, dengan adanya kegiatan sosialiasi ini, kesadaran masyarakat untuk mentaati aturan lalu lintas di perlintasan sebidang semakin meningkat. Sebab, pelanggaran lalu lintas di perlintasan sebidang tidak saja merugikan pengendara jalan tetapi juga perjalanan kereta api.

“Perlu diketahui perlintasan sebidang merupakan perpotongan antara jalur kereta api dan jalan yang dibuat sebidang. Perlintasan sebidang tersebut muncul dikarenakan meningkatnya mobilitas masyarakat menggunakan kendaraan yang harus melintas atau berpotongan langsung dengan jalan kereta api. Tingginya mobilitas masyarakat dan meningkatnya jumlah kendaraan yang melintas memicu timbulnya permasalahan yaitu terjadinya kecelakaan lalu lintas di perlintasan sebidang,”jelasnya.

Dijelaskannya, mematuhi aturan lalu lintas tersebut sesuai dengan undang undang No.23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian Pasal 94 yang menyatakan bahwa, (1) untuk keselamatan perjalanan kereta api dan pemakai jalan, perlintasan sebidang yang tidak mempunyai izin harus ditutup; (2) penutupan perlintasan sebidang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah.

Selain itu, pada Undang Undang No. 22 Tahun 2009, Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 114 menyatakan bahwa Pada perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pengemudi kendaraan wajib: Berhenti ketika sinyal sudah berbunyi,  palang pintu kereta api sudah mulai di tutup dan atau ada isyarat lain; Mendahulukan kereta api, dan Memberikan hak utama kepada kendaraan yang lebih dahulu melintas rel. 

“Meskipun kewajiban terkait penyelesaian keberadaan di perlintasan sebidang bukan menjadi bagian dari tanggung jawab KAI selaku operator, namun untuk mengurangi kecelakaan dan meningkatkan keselamatan di perlintasan sebidang beberapa upaya telah dilakukan KAI. Di antaranya melakukan sosialisasi dan menutup perlintasan tidak resmi,”ucapnya.

Selama ini tambahnya, pihaknya sudah menutup 45 perlintasan tidak resmi. Pada prosesnya langkah yang dilakukan KAI untuk keselamatan tersebut juga kerap mendapatkan penolakan dari masyarakat.

“Dalam kondisi tersebut diperlukan langkah untuk mencari jalur alternatif  bagi masyarakat yang harus disolusikan bersama oleh pemerintah pusat atau daerah,”ujar Ilud Siregar. (ef/foto:alfatih)

 

 

Latest Articles

Comments