Kisah Lauk Ikan Abdullah bin Umar yang Diminta oleh Pengemis

Alfatih-media.com-Allah Ta’ala berfirman dalam surah Ali Imran ayat 92 “Kalian sekali-kali tidaklah sampai kepada kebaikan (yang sempurna) sebelum kalian menafkahkan (menginfakkan) sebagian dari apa yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Dalam kitab tafsir al-Qur’an al-‘Adzim atau biasa disebut Tafsir al-Jalalayn, karya Imam Jalaluddin Mahalli dan Jalaluddin Suyuthi disebutkan tentang penfsiran surah Ali Imran ayat 92 sebagai berikut (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan) artinya pahalanya yaitu surga (sebelum kamu menafkahkan) menyedekahkan (sebagian dari apa yang kamu cintai) berupa harta bendamu (Dan apa yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya) dan akan membalasnya.

Salah satu tanda telah sempurnanya iman seorang mukmin ialah ia mencintai saudara seimannya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Dan sebagai bukti bahwa ia telah mencintai saudaranya itu ialah dengan ia menafkahkan harta atau hal lainnya yang ia cintai kepada saudaranya. Menyedekahkan harta yang dicintai akan lebih sulit dibandingkan dengan menyedekahkan harta yang biasa-biasa saja.

Dalam Tafsir al-Maraghi karya Syaikh Ahmad Mushafa al Maraghi (w. 1950 M), dikisahkan bahwasanya Abdullah bin Umar – semoga Allah meridai keduanya, pernah terkena wabah penyakit, dan obat penawar dari penyakitnya ialah seekor ikan dengan jenis tertentu. Setelah Beliau mengkonsumsi ikan yang dimaksud, Abdullah bin Umar pun sembuh.

Lama waktu berselang, Abdullah bin Umar menginginkan ikan yang dulu dijadikannya sebagai obat penawar dari penyakitnya, lantas Abdulah bin Umar pun mencari ikan itu, tetapi tidak didapatinya di kota Mekah. Sekian lama Abdullah bin Umar mencari ikan itu akhirnya ia mendapatkannya.

Setelah didapati ikan itu dengan membelinya seharga satu setengah dirham. Beliau pun segera membawanya pulang dan memerintahkan pembantunya untuk membakar ikan itu dan dihidangkan di atas roti.

Ketika hidangan ikan bakar beserta rotinya telah siap, tiba-tiba datanglah seorang pengemis di depan pintu rumah Abdullah bin Umar Ra. Melihat  ada seorang pengemis yang berdiri di depan rumahnya, Abdullah bin Umar Ra. spontan memerintahkan pembantunya untuk membungkus ikan bakar beserta rotinya dan memberikannya kepada pengemis itu.

Pembantunya Abdullah bin Umar enggan untuk menjalankan perintah dari tuannya, sebab menurut pembantunya, Abdullah bin Umar lah yang lebih membutuhkan ikan itu. Karena dirasa pembantunya tidak mengindahkan perintahnya, Abdullah bin Umar pun mengulangi perintahnya agar memberikan makanan tersebut kepada sang pengemis.

Kemudian pembantunya menghampiri Abdullah bin Umar dengan membawa ikan bakar beserta rotinya, lalu dihidangkan dihadapan Beliau, seraya berkata “Makanlah dengan tenang, duhai Abu Abdirrahman (Julukkannya Abdullah bin Umar), karena aku telah memberikan uang dirham kepada pengemis yang berada di depan rumah”

Abdullah bin Umar pun berkata “Bungkuslah makanan ini dan berikan kepada pengemis itu serta jangan kamu minta kembali uang dirham yang telah kamu berikan kepadanya. Sesungguhnya aku telah mendengar Nabi Muhammad Saw. bersabda “Barangsiapa yang menginginkan sesuatu dan mengalahkan keinginannya, niscaya pasti dia akan mendapatkan ampunan (dari Allah Ta’ala).

Apabila seorang mukmin menafkahkan harta atau sesuatu yang ia cintai kepada saudaranya, maka saudaranya tersebut akan timbul dalam dirinya perasaan cinta dan kasih kepada sang pemberi. Perasaan cinta dan kasih inilah yang akan membentuk hubungan persaudaraan yang harmonis dalam umat Islam. Dan akhirnya, dari persaudaraan tersebut akan menjadi pondasi kekuatan umat Islam. (sumber\:bincangsyariah)

 

Latest Articles

Comments