Keutamaan Ibadah Shalat Bagi Seorang Muslim

Oleh: Nevatuhella

Shalat merupakan tiang agama. Shalatlah yang menjadi ibadah terpenting dibanding dengan ibadat-ibadat lainnya. Seumur hidup seorang muslim wajib melaksanakan shalat. Bahkan dalam sakit sekalipun. Ada pula ditentukan cara-cara shalat untuk orang sakit.

Sudah umum kita ketahui tujun shalat adalah untuk merendahkan hati di haribaan Allah, memuji Allah Ta’ala, dan berdoa memohon ampunan dan karunia. Bahwa kita berdiri menghadap kiblat, sesungguhnyalah kita sedang berdiri dihadapan Allah Ta’ala. Allah lah tempat kita memanjatkan doa, dan dengannya lah kita sedang bercakap-cakap pada waktu kita mengerjakan shalat. 

Betapa hebatnya seandainya shalat yag kita kerjakan adalah shalat yang benar-benar memenuhi rukun-rukunnya, sehingga Allah Ta’ala, pencipta langit dan bumi sedang ada dihadapan kita. 

Shalat juga disebut sebagai penghulu dari segala peribadatan. Dalam surat An-Nisa, ayat 103, Allah berfirman, “Sesungguhnya shalat itu adalah merupakan kewajiban yang ditentukan atas semua orang mukmin.” Jadi suruhan shalat merupakan kewajiban semua orang Islam, tidak ada kecualinya.

Abu Bakar Ra. berkata dalam hal menyikapi shalat, “Apabila waktu shalat telah datang, maka berdirilah kamu semua menuju ketempat apimu yang kamu nyalakan dan padamkanlah itu!” Kalau dikembangkan ucapan Abu Bakar ini, berarti shalat bertujuan menghapus dosa-dosa yang kita lakukan, baik secara sadar maupun tidak. Bagaimana pun bagusnya seseorang, pasti ada dosa atau kesalahan kesalahannya.

Keutamaan Berjamaah

Melaksanakan shalat berjamaah merupakan suatu ibadah yang sangat tinggi nilainya. Baik dilakakasanakan di rumah bersama keluarga, terlebih di mesjid atau di musholla. Mesjid atau musholla merupakan tempat pelaksankaan shalat yang tinggi nilainya bagi laki-laki. Di mesjid, dengan ruang atau tempatnya yang luas memungkinkan banyak orang dapat berjamaah. Kebersihan dan ketenangannya terjaga. Memang fungsi ibadahnya diutamakan bagi kehadiran sebuah mesjid, disamping fungsi sosialnya.

Sabda Nabi Muhammad SAW, “Shalat dengan jamaah itu melebihi utamanya shalat sendiri dengan dua puluh tujuh derajat”. (Hadist diriwayatkan Bukhari dan Muslim). Dan orang orang yang datang bersegera ke mesjid, begitu mendengar azan berkumandang, merupakan orang yang beruntung.

Sebagaimana Rasullullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang jin dan manusia, atau sesuatu benda apapun yang mendengarkan suara panggilan azan itu, melainkan akan menyaksikan amalan baik orang itu besok pada hari kiamat.” (Hadist riwayat Bukhari ).

Rasulullah sangat mencela laki-laki yang enggan melaksankan shalat berjamaah di mesjid. Pada hadist lain, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasul mengatakan: “ Saya telah bermaksud hendak menyuruh seseorang untuk  bersembahyang mengimami orang banyak. Kemudian saya tidak mengikutinya untuk pergi ketempat orang-orang yang meninggalkan (tidak mengikuti) jamaah tadi, kemudian hendak saya bakar rumah rumah mereka.”

Betapa Rasullullah SAW sangat membenci laki-laki yang enggan melaksanakan shalat berjamaah dengan keinginan membakar rumah orang-orang ini. Memang apa beratnya bagi seorang laki-laki meninggalkan rumah atau kantornya untuk bersegera ke mesjid ketika seruan azan telah memanggil. Hanya saja karena kesadaran shalat belum terpatri di hati maka banyak orang yang enggan melaksanakan shalat dengan sungguh-sungguh dan penuh kesadaran. Shalat masih dianggap hal sepele. Pada hal para sahabat dan orang-orang yang dekat dengan Rasullullah sangat menjaga waktu shalat mereka. Tak ada alasan menundanya.

Sebagai catatan saya contohkan adanya orang-orang yang tidak menyadari pentingnya shalat. Pernah saya tinggal disebuah tempat. Saya hitung kaum ibu, tetangga saya hampir separuh dari 30 orang tidak melaksankan shalat. Mereka sibuk berjualan, bekerja ke luar rumah, dan ada yang di rumah saja. Karena berbagai alasan mereka senang senang saja meninggalkan shalat. Ada yang mengatakan tak sempat , ada yang beralasan punya anak bayi atau anak balita, sehingga pakaian dan tubuhnya bau pesing saja. Ada pula yang mengatakan masih muda, tunggu tua baru shalat. Pada hal bagi seorang perempuan, para ahli agama mengatakan, betapa mudahnya seorang wanita masuk surga. Cukup dengan patuh pada suami dan mengerjakan shalat.

Kaum bapak pun begitu juga. Bahkan ada yang sudah berusia di kepala enam,, tak juga shalat. Sibuk bekerja di bengkelnya, atau dipertukangannya.Orang-orang ini tentu orang-orang yang merugi yang dalam harta yang dikejarnya tidak ada keberkahannya.

Memang sangatlah umum sekarang kita lihat dimana-mana musholla dan mesjid kita sunyi dari jamaah. Sedih sekali kita tentunya melihat kondisi ini. Bisa dipastikan dengan tidak memelihara shalatlah umat Islam banyak yang hidup melarat dan yang punya uang hedon, mendekati sesat.

Sudah saatnya orang Islam, terutama para guru dan  alim ulama untuk menyeru umat melaksanakan shalat dengan sungguh-sungguh. Semuanya untuk kemenangan diri sendiri sesungguhnya dan kemaslahatan umat pada umumnya.Sebab bagaimana mungkin orang Islam Indonesia mencapai kehidupan yang sejahtera lahir dan bathin, jika tiang agama tidak kita tegakkan.

Dengan cara menyiapkan atau mengosongkan tugas-tugas kantor atau menghentikan pekerjaan lainnya pada waktu masuk waktu shalat adalah satu upaya memudahkan umat Islam melaksanakan kewajiban shalatnya.

Yang lainnya, individu-individu harus mau belajar memperdalam Islam. Terutama memperdalam pengetahuan tentang shalat yang berkaitan langsung dengan pengetahuan agama. Sekali lagi mari kita saling mengingatkan: shalat adalah tiang agama.

*Nevatuhella, esais/kolumnis. Alumnus Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara. Buku ceritanya yang telah terbit Perjuangan Menuju Langit (2016), Bersampan ke Hulu (2018) dan satu buku puisi Bila Khamsin Berhembus (2019).

Latest Articles

Comments