Keberkahan Orangtua yang Shalih untuk Anak Cucunya

Alfatih-media.com-Jika kita sering membaca surah Al Kahfi tiap hari Jum’at dan mentadabburinya, kita akan menemukan sebuah kisah perjalanan Nabi Musa dan Nabi Khidir yang kesepakatan awanya adalah Nabi Musa tidak boleh mempertayakan apapun yang dilakukan Nabi Khidir.

Salah satu yang dilakukan Nabi Khidir saat itu adalah membangun dinding rumah yang hampir roboh di sebuah negeri asing. Mengapa tiba-tiba dibangun kembali? Karena ternyata di bawah dinding itu tersimpan harta karun milik dua orang anak yatim.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa menurut Ikrimah, Qatadah, dan beberapa ulama lainnya mengatakan bahwa  di bawah dinding tersebut terdapat harta kekayaan yang dipendam milik mereka berdua. Dan yang demikian itu merupakan lahiriyah siyaq (redaksi) ayat di atas.” Itu pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Namun menurut Al Aufi yang menceritakan dari Ibnu Abbas, bahwa harta yang ada di bawah dinding tersebut adalah simpanna ilmu. Adapun di dalam tafsirnya, Ibn Jarir menyebutkan dari Na’im al-Anbari, yang ia merupakan teman duduk al-Hasan al-Bashri, ia bercerita bahwa harta di balik dinding tersebut adalah lempengan emas yang di dalamnya tertulis “Dengan nama Allah yang Maha pengasih  lagi Maha penyayang

Lantas yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Allah mengutus utusan-Nya untuk menyelamatkan rumah dan harta warisan dua anak yatim tersebut? jawabannya adalah sungguh orang tua mereka adalah orang tua yang shalih. Sebagaimana kisah tersebut diabadikan dalam Al Qur’an QS Al Kahfi ayat 82:

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحا

Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh.” 

Dalam kitab Hilyatul Auliya karangan Abu Nu’aim Al Ashbahani menyebutkan bahwa penjagaan tersebut disebabkan oleh kesholihan orang tuanya, namun secara spesifik tidak disebutkan bentuk kesholihannya seperti apa.  Selain itu juga, Al Qurthubi dalam  Al-Jami’ liahkamil Quran juga memaparkan:

ففيه ما يدل على أن الله تعالى يحفظ الصالح في نفسه وفي ولده وإن بعدوا عنه. وقد روي أن الله تعالى يحفظ

الصالح في سبعة من ذريته

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menjaga keshalihan seseorang dan menjaga keshalihan anak keturunannya meskipun jauh darinya [beberapa generasi setelahnya]. Diriwayatkan [dalam kisah pada ayat] bahwa Allah menjaga keshalihan pada generasi ketujuh dari keturunannya

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keshalihan orangtua bisa membawa keberkahan dan kebaikan pada anak cucu setelahnya. Tidak hanya sifat dan unsur genetik saja yang bisa diturunkan, keshalihan orang tua juga bisa diturunkan pada anak cucunya. Maksudnya adalah karena keshalihan orang tua, Allah menjaga anak cucunya dan menjadikan mereka kelak juga menjadi orang yang shalih. (sumber:BincangSyariah.com)

Latest Articles

Comments