Kebahagiaan Dalam Beragama

Para intelektual di negeri ini mengetahui kalau kesenjangan penghasilan penduduk sangat menganga. Kini sebuah apertemen bertingkat puluhan di kota Medan akan segera selesai dalam waktu dekat. Para buruh bangunan yang bekerja akan pulang kampung. Tak punya andil atau saham di bangunan itu untuk keringatnya. Bangunan ini milik pengembang, investor, tauke besar.

Siapa yang akan tinggal di apartemen yang satu kamarnya berharga milyaran. Atau taroklah ratusan juta. Saya sudah pasti tidak. Kelompok penarik betor tidak. Supir angkot, PNS, buruh bangunan tidak. Anggota DPR mungkin bisalah. Tapi yang pasti akan tinggal disini, baik beli kontan, maupun kredit, ya para bankir, pengusaha papan atas, pekerja asing, artis, dan yang berkocek tebal. Bisa bandar narkoba yang belum tertangkap, atau WTS kelas atas.

Bangunan super melangit seperti ini sepertinya menjadi ciri khas sebauh kota metropolitan. Dimana dibawah bangunan ini, mereka yang tidak kaya beraktivitas. Berjualan, menunggu sewa untuk para supir angkot dan abang betor. Berjualan kecil-kecilan. Dengan modal yang super sedikit dibanding mereka yang punya aktifitas dagang di lantai-lantai tinggi gedung  ini.

Lantas, akankah kita cemburu, benci, lalu mengoyak-ngoyak baju kita seperti anak-anak yang marah menyaksikan hal ini? Tentunya tidak.

Mengapa jawabnya tidak, karena kita adalah makhluk yang berakal dan punya hati. Kalau ditanya, siapa yang paling kita sayangi di dunia ini? Jawabnya pasti anak-anak, ayah ibu, dan suami atau isteri kita.  Dengan rasa sayang ini, kita berkewajiban memenuhi keperluan hidupnya. Makan, minum, bersekolah. Seseungguhnya rasa kasih sayang itulah yang menjadi ruh kita bekerja untuk mereka. Agama mengajarkan agar mencarikan rezeki dan kebutuhan untuk orang-orang yang kita sayangi ini dengan cara yang halal.

Untuk menghasilkan sesuatu yang besar dan brilian, sesungguhnya seseorang tak perlu harus bergelar profesor atau doktor. Tapi cukup dengan mencintai lebih. Terhadap anak, istri, tetangga dan teman. Dalam mencintai lebih inilah kita menemukan kebahagiaan yang sangat-sangat sejati. Kita berani mengorbankan egoisme kita. Memberikan lebih apa yang kita miliki pada sesiapa yang kita cintai. Tidak pernah takut miskin, dan selalu berharap dalam kendali kekuasaan Sang Pencipta pemberi kasih sayang yang sesungguhnya.

Mari kita tak usah terkesima pada yang fisikal. Bangunan menjulang tinggi di Medan saat ini, bisa jadi bulan atau tahun depan menjadi tempat-tempat angker, karena disana tinggal para orang yang cintanya lebih pada materi. Bukan cinta lebih yang saya maksud di atas.

*Nevatuhella, esais/kolumnis

Latest Articles

Comments