Istri-istri Nabi yang Pernah Cemburu Satu Sama Lain

Alfatih-media.com-Cemburu dalam bahasa Arab disebut dengan ghairah yang secara bahasa diartikan: berubahnya suasana hati dan bangkitnya amarah karena berbagi sesuatu yang bersifat privasi. Cemburu merupakan watak alamiah yang diberikan Allah pada diri manusia, dan akan muncul ketika ada orang lain yang turut bersama mengusik miliknya, dan perasaan tersebut muncul dengan sendirinya.

Banyak jenis cemburu yang diperbolehkan dalam syariat, salah satunya adalah cemburu dalam rumah tangga, bisa saja cemburu ini muncul dari seorang suami atau dari seorang istri. Pasangan yang tidak memiliki rasa cemburu secara proporsional tidak dianggap baik, karena itulah Nabi menyebut dirinya sebagai orang yang pencemburu melebihi sahabat Sa’ad.

Cemburu dari seorang suami berguna untuk menjaga nasab agar tidak terjadi percampuran. Sebab itulah dikatakan, setiap umat diberi rasa cemburu pada kaum laki-lakinya, dan diberi shiyanah (terpelihara) pada kaum wanitanya.

Istri juga boleh cemburu pada suaminya selama tidak sampai mengucapkan kata-kata kotor dan membangkang pada suami. Seorang istri tidak mungkin terbebas dari rasa cemburu, karena cemburu adalah watak manusiawi. Sebagai contoh adalah istri-istri Nabi, bagaimana sesekali mereka saling cemburu antara satu dengan yang lain.

Berikut beberapa riwayat tentang cemburu istri-istri Nabi:

Cemburu Aisyah pada Khadijah.

Dari Hisyam dari bapaknya dari Aisyah RA. berkata: “Tidaklah aku cemburu kepada istri-istri Nabi SAW. sebagaimana kecemburuanku terhadap Khadijah, padahal aku belum pernah melihatnya. Ini karena Nabi sering menyebut-nyebutnya (memuji dan menyanjungnya), dan terkadang Nabi menyembelih kambing, memotong-motong bagian dagingnya, lantas mengirimkannya pada saudara-saudara Khadijah. Suatu saat aku berkata kepada beliau, “Seolah-olah tidak ada wanita di dunia ini selain Khadijah.” Maka Nabi menjawab: “Khadijah itu begini (sifatnya) dan begini (keistimewaannya) dan dari dialah aku mempunyai anak.” (HR. Bukhari)

Cemburu Zainab pada Shafiyah

Dari Aisyah RA.: Dalam sebuah perjalanan Rasulullah, unta Shafiyah mendadak sakit, sementara unta Zainab ada yang tersisa. Maka Rasulullah SAW bersabda pada Zainab, “Unta Shafiyah sakit, aku minta engkau memberi dia seekor dari untamu.” Zainab menjawab, “Apa aku harus memberi wanita Yahudi itu?”. Karena kejadian itu, Nabi tidak mendatangi Zainab pada bulan Dzul Hijjah dan Muharram; dua bulan atau bahkan tiga bulan. (HR. Ahmad).

Cemburu Istri-Istri Nabi pada Shafiyah

Dari Zaid bin Aslam semua istri Nabi berkumpul di dekat beliau saat sakit menjelang wafat. Shafiyah berkata, “Aku ingin sakit yang engkau rasakan juga ikut aku rasakan.” Istri-istri Nabi saling mengedipkan mata. Nabi kemudian melarang mereka dan mengatakan bahwa Shafiyah tidak berdusta.

Cemburu Istri-Istri Nabi pada Aisyah

Dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah: Istri-istri Rasulullah terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah Aisyah, Hafshah, Shafiyah dan Saudah. Kelompok kedua adalah Ummu Salamah dan istri-istri yang lain.

Kaum muslimin tahu betapa cintanya Rasulullah SAW pada Aisyah, sehingga ketika mereka memiliki harta yang ingin dihadiahkan kepada Rasul, mereka mengundurnya sampai Rasulullah tiba pada giliran bermalam di rumah Aisyah, baru kemudian pemilik hadiah itu mengirimkan hadiahnya untuk Rasul ke rumah Aisyah.

Kelompok Ummu Salamah kemudian berkata pada Ummu Salamah, “Berbicaralah pada Rasullah SAW agar beliau memberi tahu orang-orang, agar siapa saja yan ingin memberikan hadiah kepada Rasul hendaknya memberikan hadiah itu di mana pun Rasulu bermalam di rumah istri-istrinya.”

Perihal tersebut kemudian disampaikan Ummu Salamah pada Rasul sebanyak tiga kali, sampai pada akhirnya Rasul bersabda, “Janganlah engkau menyakitiku perihal Aisyah, sesungguhnya wahyu tidak turun padaku pada saat aku berada di dalam jubah seorang wanita, kecuali Aisyah.”

Ummu Salamah lalu berkata, “Aku bertaubat pada Allah dari menyakiti dirimu wahai Rasulallah.” (HR. Bukhari)

Diceritakan dari Anas ia berkata: Nabi sedang berada di rumah salah satu istrinya, kemudian salah seorang dari istri-istri yang lain mengirimkan makanan dalam mangkuk, kemudian istri tersebut memukul tangan pelayan itu hingga mangkuk di tangannya jatuh dan pecah. Nabi kemudian mengumpulkan serpihan-serpihan mangkuk dan memasukkan makanan itu ke dalamnya. Kemudian bersabda, “Ibumu sedang cemburu”. (HR. Bukhari).

Demikianlah rasa cemburu istri-istri Nabi, walaupun demikian rasa cemburu itu tidak menghalangi mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang hebat. Di antara mereka ada wanita-wanita yang ahli puasa, ahli ibadah malam, periwayat beribu-ribu hadis Nabi, ahli agama yang menjadi rujukan umat dan lain sebagainya. Allah berfirman, “..boleh jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu…” (Q.S. Al-Baqarah [02] : 216). (sumber:BincangSyariah.com)

Latest Articles

Comments