Ini Empat Hukum Bersiwak

Alfatih-media.com-Secara etimologi siwak adalah “addalku” menggosok. Adapun menurut terminologi siwak adalah menggunakan (menggosokkan) kayu atau yang sejenis (sikat gigi, ujung sorban) pada gigi dan area sekitarnya.

Adapun hukum bersiwak, pada dasarnya adalah sunah dalam berbagai kondisi. Lebih-lebih ketika akan melakukan ibadah, misalkan salat atau wudu’. Ini berdasarkan hadits nabi. Rasulullah Saw. bersabda:

لولا ان اشق على امتي لامرتكم بالسواك مع كل وضوء

Lawla an asyuqqo ala ummati la amartuhum bissiwaki ma’a kulli wudu’in

Andaikata aku tidak memberatkan pada umatku, maka niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak tiap kali berwudu’. (HR. Malik, Ahamad, dan An-Nasai)

Namun, meski hukum dasar dari siwak adalah sunah, di lain kesempatan bersiwak bisa menjadi wajib, makruh, dan haram. Pertama, wajib. Wajib, apabila di mulut terdapat najis yang tidak dapat dihilangkan kecuali dengan siwak. Atau bau mulut sangat menyengat hidung sedang ia hendak pergi salat jum’at atau ke kondangan. Karena jika tidak bersiwak atau sikat gigi akan mengganggu kenyamanan orang lain. Apalagi sampai mengganggu kekhusyukan orang lain saat salat. Tentunya hal tersebut harus dihindari sehingga bersiwak menjadi wajib bagi mereka yang memiliki bau mulut yang tidak sedap.

Kedua, makruh. Makruh bersiwak bagi mereka yang sedang puasa. Kemakruhan ini berlaku setelah tergelincirnya matahari atau sehabis azan duhur.

Ketiga, haram. Keharaman ini berlaku apabila alat siwak atau sikat gigi menggunakan milik orang lain tanpa izin.

Keempat, sunah. Kesunahan ini sebagaimana yang telah disebutkan di atas, yaitu dalam berbagai kondisi. Kesunahan ini menjadi meningkat (sunah muakkad) ketika bau mulut sangat tidak sedap, hendak melaksanakan salat, dan baru bangun tidur.

Dari empat hukum bersiwak ini yang banyak kita kerjakan adalah hukum yang keempat, yakni sunah. Adapun hukum ibahah dalam siwak adalah tidak berlaku. Karena ada kaidah fiqh,

ما كان اصله الندب لا تأتي الاباحة فيه

Ma kana ashluhunnadbu la ta’tilibahatu fihi

Sesuatu yang hukum asalnya sunah, maka tidak berlaku di dalamnya hukum ibahah. (Lihat: I’anah aththolibin Juz 1, Hal. 44)

Allah Ta’ala A’lam. (sumber:BincangSyariah.Com)

Latest Articles

Comments