Hal-hal yang Dijauhi Saat Berpuasa

Alfatih-media.com-Imam Izzuddin bin Abdissalam di dalam kitab Maqashidus Shaum bab keempat menjelaskan bahwa ada hal-hal yang sebaiknya dijauhi ketika sedang berpuasa.

Pertama, wishal, yaitu menyambung puasa satu dengan puasa berikutnya dengan tanpa berbuka puasa dan sahur. Hal ini dilarang oleh Rasulullah saw. sebagaimana dalam hadis berikut.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، قَالَ: نَهى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ الْوِصَالِ فِي الصَّوْمِ، فَقَالَ لَهُ رَجلٌ

مِنَ الْمُسْلِمِينَ: إِنَّكَ تُوَاصِلُ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: وَأَيُّكُمْ مِثْلِي إِنِّي أَبِيتُ يُطْعِمُنِي رَبِّي وَيَسْقَينِ فَلَمَّا أَبَوْا أَنْ يَنْتَهُوا عَنِ

الْوِصَالِ؛ وَاصَلَ بِهِمْ يَوْمًا، ثُمَّ يَوْمًا، ثُمَّ رَأَوُا الْهِلاَلَ فَقَالَ: لَوْ تَأَخَّرَ لَزِدْتُكُمْ كَالتَّنْكِيلِ لَهُمْ حِينَ أَبَوْا أَنْ يَنْتَهُوا. رواه

البخاري.

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. melarang wishal dalam berpuasa. Lalu ada seorang laki-laki dari umat Muslim yang berkata, “Sungguh (bukankah) engkau juga melakukan wishal wahai Rasulullah. Beliau pun menjawab, “Kalian mau seperti aku?” Sungguh aku ketika malam hari selalu diberi makan dan minum oleh Tuhanku.” Ketika mereka enggan menghentikan puasa wishal, maka beliau melakukan puasa wishal bersama mereka hari demi hari, kemudian mereka melihat hilal. Lalu beliau bersabda, “Kalau hilal itu terlambat (datangnya) pasti aku akan menambah lagi puasa wishal bersama kalian.” Ucapan beliau ini sebagai bentuk sindiran kepada mereka ketika mereka enggan menghentikan puasa wishal. (H.R. Al-Bukhari)

Imam Izzuddin bin Abdissalam menjelaskan bahwa larangan Nabi saw. untuk berpuasa wishal adalah karena hal itu dapat melemahkan kekuatan dan tubuh, serta hal itu bukanlah termasuk ibadah.

Adapun seandainya Rasulullah saw. makanan dan minumannya (pada hakikatnya) tidak dari Allah Swt. pasti beliau tidak akan melakukan wishal.  Dan pada dasarnya makan dan minum adalah sumber kekuatan manusia untuk beribadah kepada Allah Swt.

Kedua, berciuman. Hal ini berdasakan hadis riwayat Aisyah sebagai berikut.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَأ قَالَتْ: ((كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَلَكِنَّهُ كَانَ

أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ)). مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Aisyah ra. ia berkata: “Nabi Saw pernah mencium sedangkan beliau berpuasa, dan beliau pun pernah menyentuh kulit sedangkan beliau berpuasa, tetapi beliau lebih dapat menahan nafsunya.” (Muttafaqun alaih).

Imam Izzuddin bin Abdissalam menjelaskan bahwa jika seseorang itu telah tua dan dirinya aman dari terbangkitnya syahwat dan rusaknya ibadah puasa maka mencium istrinya tidaklah apa-apa. Namun, jika masih muda dan tidak aman akan hal itu, maka ia dimakruhkan mencium istrinya. Karena hal itu dapat mempengaruhi rusaknya ibadah atau terbersitnya melakukannya.

Ketiga, bekam. Memang hadis riwayat Imam Al-Bukhari mengatakan bahwa Rasulullah saw. pernah bekam ketika beliau sedang berpuasa. Namun, di suatu riwayat Imam Al-Bukhari lainnya Anas pernah ditanya mengapa keengganannya berbekam ketika puasa, jawabannya adalah karena dapat membuat badan menjadi lemah.

Oleh sebab itu, Imam Izzuddin bin Abdissalam menjelaskan bahwa bekam itu dimakruhkan bagi orang yang sedang berpuasa karena ia dapat mengakibatkan berbuka/tidak puasa (karena lemasnya) atau mengakibatkan orang itu menjadi berat ibadahnya lalu lemas badannya.

Keempat, memakai celak.

Sahabat Anas bin Malik pernah memakai celak sedangkan ia dalam keadaan berpuasa. Imam Al-A’masy pun berkata, “ Aku belum pernah melihat salah satu dari sahabat kita yang memakruhkan celak bagi orang yang berpuasa.” Begitu pula dengan Imam Ibrahim yang merukhsah orang yang berpuasa memakai celak dengan shabir.”

Menurut imam Izzuddin bin Abdissalam menerangkan bahwa memang (diperbolehkan memakai celak) tidak ada bedanya antara celak yang dapat sampai ke tenggorokan (rasanya) dan lainnya. Namun, yang lebih utama adalah meninggalkannya sebagai keluar dari khilaf/pertentangan ulama (antara yang membolehkan dengan yang tidak).

Kelima, istinsyaq atau kumur-kumur ketika wudu. Rasulullah saw. bersabda:

أَسْبِغِ الْوُضُوءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ الأَصَابِعِ وَبَالِغْ فِي الاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ صَائِمًا. رواه ابو داود.

Sempurnakanlah wudu, sela-selalah antara jari-jari, dan  berlebih-lebihlah dalam berkumur kecuali ketika kamu sedang berpuasa. (H.R. Abu Daud)

Larangan tersebut adalah ketika berlebih-lebihan dalam berkumur karena dikhawatirkan akan merusak ibadah puasa (dengan masuknya air ke dalam tenggorokan). Wa Allahu A’lam bis Shawab. (sumber:BincangSyariah.Com)

 

Latest Articles

Comments