Etika yang Harus Dipenuhi Seorang Santri dalam Menuntut Ilmu

alfatih-media.com-Dalam dunia pesantren di Indonesia, kitab Ta’lim Muta’allim adalah buku pedoman etika santri dalam menuntut ilmu. Sebab bagi seorang santri, menuntut ilmu bukan hanya urusan mengisi otak. Tapi lebih kepada mengharapkan berkah dari ilmu dan ahli ilmu atau Kiai yang mengasuh Pondok Pesantren dimana si santri mengkaji ilmu.

Perlu diketahui, menurut Syaikh Burhanuddin dalam Ta’lim Muta’allim, seorang penuntut ilmu tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula ilmunya dapat bermanfaat, selain jika mau mengagungkan ilmu itu sendiri, ahli ilmu, dan menghormati keagungan gurunya.

Jadi seorang santri yang ingin keberkahan dan kemanfaatan ilmu, dia selayaknya memperhatikan dua etika dalam menuntut ilmu yang disebutkan oleh Syaikh Burhanuddin: pertama: mengangungkan ilmu. Kedua: mengangungkan guru.

Ulama-ulama terdahulu banyak yang telah mencontohkan bagaimana cara menganggungkan ilmu. Sebagaimana Imam Malik yang selalu berpakaian terbaik dan berwudhu ketika akan mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya.

Tak hanya itu, dalam tradisi periwayatan hadis. Seorang ahli hadis sebelum mengajarkan hadis akan menyebutkan wa bihi ilaihi qala yang artinya dan dengan hadis yang tersampung ke Nabi ini Imam Bukhari berkata, (jika sang guru mengajarkan kitab shahih bukhari). Ini adalah sebuah bentuk pengangungan terhadap ilmu itu sendiri. Selain pengucapan ini juga dimaksudkan untuk menunjukkan ketersambungan sanad serta penghormatan terhadap para perawi terdahulu yang telah mengajarkan hadis kepada generasi setelahnya,

Orang bijak berkata

ما وصل من وصل إلا بالحرمة، وما سقط من سقط إلا بترك الحرمة

Dapatnya orang mencapai sesuatu hanya karena mengagungkan sesuatu itu, dan gagalnya pula karena tidak mau mengagungkannya.”

Termasuk dari mengangungkan ilmu adalah mengagungkan guru. Walau hanya sehuruf Alquran saja seseorang mengajarimu, maka dia adalah gurumu. Maka orang yang mengajarmu satu huruf ilmu yang diperlukan dalam urusan agamamu, dia adalah bapak dalam kehidupan agamamu.
Sebagaimana perkataan hikmah dari Sayyidina Ali berikut ini

قال على رضى الله عنه: أنا عبد من علمنى حرفا واحدا، إن شاء باع، وإن شاء استرق.

Sayyidina Ali ra berkata: “Sayalah menjadi hamba sahaya orang yang telah mengajariku satu huruf. Terserah padanya, saya mau dijual, di merdekakan ataupun tetap menjadi hambanya.”

(sumber:bincangsyariah)

Latest Articles

Comments