Dosen IKH Berikan Edukasi Kesehatan Pemenuhan Gizi Pada Bayi di Langkat

Alfatih-media.com-Dosen Institut Kesehatan Helvetia (IKH) Medan melakukan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) melalui edukasi kesehatan tentang pemenuhan gizi pada bayi di Kwala Begumit, Langkat.

Kegiatan yang dilakukan ini merupakan salah satu bentuk dari Tri Dharma Perguruan Tinggi dosen yang bemanfaat untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta dapat menambah pengetahuan bagi masyarakat tentang seputar masalah kesehatan, khususnya masalah pemenuhan gizi pada bayi.

Kegiatan pengabdian tersebut diketuai Marlina, SKM, MKM, Winda Agustina,S.Tr.Keb,MKM selaku dosen anggota serta beberapa orang mahasiswa dari Prodi S1 Kesehatan Masyarakat. Kegiatan pengabdian masyarakat berupa penyuluhan kesehatan dengan tema “Pemberian Makanan Pendamping ASI pada Bayi Usia 0-6 Bulan” kepada puluhan ibu-ibu yang memiliki bayi.

Marina selaku ketua tim mengatakan, kebiasaan pemberian MP-ASI dini memiliki kontribusi terhadap banyak masalah anak di kemudian hari Makanan yang sesuai untuk bayi usia 0-6 bulan adalah ASI. Sesuai yang dimaksud ialah sesuai jumlah energi dan teksturnya. Pemberian MP-ASI di bawah usia 6 bulan menyebabkan bayi mendapat energi lebih banyak dari yang dibutuhkan.

“Bayi memiliki daya tahan tubuh yang berbeda-beda. Bayi yang memiliki daya tahan tubuh kurang apabila mendapat MP-ASI sebelum usia 6 bulan akan berpeluang terkena infeksi yang mengarah pada gizi kurang. Sedangkan pada bayi yang memiliki daya tahan tubuh tinggi, pemberian MP-ASI pada usia sebelum 6 bulan akan berpeluang menjadi gizi lebih. Pemberian MP-ASI sebelum usia 6 bulan sering dihubungkan dengan meningkatnya kandungan lemak dan berat badan,” jelasnya.

Karena itulah, jelasnya, menunda pemberian MP-ASI sampai usia 6 bulan dapat melindunginya dari gizi lebih di kemudian hari. Beberapa enzim pemecah protein seperti pepsin, lipase, dan amilase, serta asam lambung, baru akan diproduksi sempurna pada saat bayi berusia 6 bulan.

“Ibu tidak perlu khawatir bayi akan merasa lapar, yang terpenting ibu tetap memberikan ASI secara on-demand atau kapan saja bayi mau untuk yang memberikan secara langsung, jika pemberian melalui botol atau perah ibu cukup menyediakan ASI yang sesuai untuk kebutuhan bayi saat ibu tidak berada di rumah,” katanya.

Dengan adanya pengabdian masyarakat ini lanjut Marina, diharapkan dapat menjadikan tambahan ilmu dan pengetahuan bagi masyarakat khususnya ibu-ibu untuk dapat senantiasa memberikan ASI eksklusif dan tidak memberikan makanan tambahan lain apapun sebelum bayi berumur 6 bulan agar imunitas tubuh bayi terjaga sehingga terhindar dari berbagai macam penyakit.

Lurah Lingkungan 2, Fahri Aditia Efendi Sembirig menyambut baik kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan dosen tersebut. Dia berharap, kegiatan tersebut dapat memberi pengetahuan kepada ibu-ibu yang memiliki   bayi tentang pemenuhan gizi pada bayinya. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Latest Articles

Comments