Cara Nabi Berdakwah Pada Orang Awam

Nabi dalam berdakwah selalu menggunakan cara persuasif, damai, toleran dan penuh kasih sayang. Nabi bahkan selalu melindungi orang lemah, menyayangi dan mengasihi orang awam. Hal ini tercermin dari cara dan sikap beliau yang selalu memperlakukan siapa saja dengan hormat. Termasuk kepada suku pedalaman yang awam dengan ajaran Islam.

Dewasa ini banyak sekali orang yang berdakwah mengatasnamakan agama. Akan tetapi ucapan dan perilakunya tidak mencerminkan ajaran Islam. Cara dakwah mereka yang keras, kaku, dan memaksa sangat jauh dari apa yang diajarkan nabi. Mereka mencaci, mengutuk, dan mencela setiap orang yang bersebrangan dengan pendapatnya. Lebih lagi kepada mereka yang tidak seiman dengan mereka.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, terdapat seorang Badui (suku pedalaman Arab) bernama Dzulkhuwaishirah Al-Yamani kencing di lantai masjid yang pada saat itu masih berupa tanah. Melihat hal tersebut, semua orang yang ada di masjid pun marah. Ada yang mencelanya dan menghardiknya, ada pula yang mengusirnya.

Melihat tindakan tersebut, nabi menghentikan aksi para sahabat dan membiarkan orang Badui tersebut menyelesaikan hajatnya. Di tengah-tengah kejadian tersebut, nabi kemudian memerintahkan sahabat untuk mengambil seember air. Fungsinya adalah untuk mensucikan bekas tempat kencing tersebut dengan cara diguyur (disiram).

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي المَسْجِدِ، فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ، فَقَالَ لَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ.

Artinya; “Diceritakan dari Abu Hurairah bahwa pada suatu ketika terdapat seorang Arab Badui yang berdiri, kemudian kencing di (lantai) masjid. Orang-orang pun memarahinya (dengan ucapan ataupun perbuatan). Nabi kemudian berkata kepada mereka; “Biarkanlah ia dan siramlah bekas air kencingnya dengan seember air atau sewadah air. Karena sesungguhnya agama diturunkan untuk mempermudah kalian, bukan untuk mempersulit kalian.” Membiarkan orang tersebut untuk tetap kencing di masjid sebagai tempat ibadah memanglah aneh bagi para sahabat. Namun begitulah cara nabi menghadapi suku badui yang memiliki budaya primitif.

Beliau tidak langsung mengusirnya karena dalam pandangan ulama justru akan mengotori masjid dengan najis kencing yang tercecer. Dalam pandangan Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub apa yang dilakukan nabi justru menjaga psikologis dan mental badui tersebut. Sebab apabila sahabat mengusirnya justru akan membuatnya antipati kepada nabi dan juga ajaran Islam.

Begitulah cara nabi menghadapi orang pedalaman yang memiliki budaya berbeda dengan pada umumnya. Beliau tidak memarahinya dengan ketidaktahuan orang tersebut. Akan tetapi langsung menyelesaikanya dengan membersihkanya. Karena agama datang bukan untuk mempersulit sesuatu, tetapi justru memudahkanya. (sumber :bincangsyariah)

Latest Articles

Comments