Bimas Islam Kemenag Siap Beri Bantuan Fasilitas untuk Penyandang Disabilitas di Masjid

Alfatih-media.com - Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Muhammadiyah Amin menegaskan, saat ini sudah saatnya rumah ibadah-Masjid dilengkapi dengan fasilitas khusus disabilitas. Untuk mendukung hal tersebut, bagi masjid yang hendak melengkapi fasilitas khusus disabilitas akan diberi bantuan sesuai dengan kebutuhan.

Dikatakan Dirjen, pemerintah siap membantu masjid yang hendak melengkapi fasilitas pelayanan disabilitas dan Bimas Islam disebutnya siap menjadi pioner dalam hal pemenuhan layanan berkategori inklusif ini.

“Jika ada yang mau melengkapi fasilitas pelayanan untuk disabilitas maka kita akan bantu, ini penting karena langsung melayani masyarakat dan kita harus perhatikan dengan segera”, tegas Dirjen saat mengisi acara FGD Harmonisasi Naskah Fiqih Disabilitas yang diselenggarakan Subdit Kepustakaan Islam, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Ditjen Bimas Islam, di Bogor, Kamis (13/6).

Naskah Agama

Selain infrastruktur khusus disabilitas, pemerintah melalui Kementerian Agama juga telah menyiapkan buku-buku keagamaan yang dapat diakses penyandang disabilitas, diantaranya alqur’an braille dan fiqih ibadah braile. Adapun terkait konten-konten keagamaan lainnya, seperti harmonisasi naskah disabilitas yang menjadi pembahasan pada agenda dua hari di Bogor tersebut, Dirjen berharap mendapat banyak masukan dari masyarakat.

“Banyak hal yang bisa kita lakukan, karenanya mohon kami diberi masukan, dalam waktu dekat ini kami juga akan memperbanyak buku fikih disabilitas, sebuah karya penting hasil kajian bersama LBM PBNU, The Asia Foundation, PSLD Universitas Brawijaya, Yakkum dan Lakspesdam PBNU, dan ke depan kami berkomitmen terus menindaklanjuti rekomendasi dari berbagai pihak terkait pemenuhan hak disabilitas”, ujar Dirjen.

Untuk diketahui, bahwa layanan disabilitas di dalam rumah ibadah, khususnya masjid meliputi banyak hal. Di antara yang banyak diperlukan adalah jalur khusus pengguna kursi roda, fasilitas khusus untuk wudhu dan pendamping, selain juga bagi penyandang tuna rungu, diperlukan media khusus agar dapat mengikuti khutbah jumah.

Selain itu, dalam FGD kali ini juga dibahas tentang perlunya sosialisasi kepada masyarakat, khususnya para pengelola masjid tentang perlunya cara pandang inklusif terhadap disabilitas serta hak-haknya yang harus dipenuhi dalam akses layanan masjid.

Hadir dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini (13-14/6) ini 30 orang peserta terdiri dari The Asia Foundation, Yakkum, PSLD Universitas Brawijaya, Lakspesdam PBNU, Maarif Insitute, Masjid El-Syifa, Masjid Istiqlal, Balitbang Kemenag, Ditjen Haji Umrah, dan Direktotrat di lingkungan Ditjen Bimas Islam.

Pionir sebagai Pemberi Layanan Disabilitas

Selain itu, Guru Besar Ilmu Hadits UIN Alauddin Makassar itu menambahkan, instansinya juga menyelenggarakan program berupa Workshop Literasi Islam Moderat Bagi Disabilitas Netra, serta Bantuan Subdit Kemasjidan tentang Bangunan Masjid Ramah Disabilitas.

Saat ini, dikatakan Dirjen, pihaknya juga tengah merancang pembuatan materi Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bagi penyandang disabilitas, dan Pelatihan Fasilitator Bimwin khusus bagi penyandang Disabilitas.

Program lainnya, Dirjen menambahkan, Satuan Kerjanya juga membuka cabang tilawah bagi Penyandang Disabilitas Netra pada ajang MTQ Tingkat Nasional, Festival Seni Budaya Islam Bagi Disabilitas Netra, serta memberi bantuan operasional kepada organisasi Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI).

Semua program tersebut dilakukan karena Ditjen Bimas Islam berpandangan bahwa Negara berkewajiban untuk menyediakan fasilitas publik yang ramah terhadap penyandang disabilitas.

"Banyak hak penyandang disabilitas yang harus dipenuhi negara. Bimas Islam sesuai dengan tugasnya menyediakan layanan di bidang keagamaan. Kami berkomitmen bahwa pelayanan publik dapat terselenggara secara adil tanpa diskriminasi, dan bukan sekadar wacana!," ujar Dirjen.

Dalam kesempatan itu, Dirjen juga membuka diri untuk menerima masukan dari peserta terkait program dan layanan lainnya yang dapat dilakukan oleh Bimas Islam untuk melayani penyandang disabilitas.

"Bimas Islam harus menjadi pioneer di Kementerian Agama bagi layanan terhadap penyandang disabilitas!" tegasnya.

Kegiatan Harmonisasi Naskah Fikih Disabilitas Tahun 2019 dilaksanakan di Hotel Arch Bogor selama dua hari, tanggal 13 dan 14 Juni 2019. Kegiatan yang digelar oleh Subdit Kepustakaan, Direktorat Urais-Binsyar ini diikuti 30 peserta yang terdiri dari sejumlah organisasi, yayasan, dan warga penyandang disabilitas. (bimasislam/rilis/gm/ef/foto:ist)

Latest Articles

Comments