Bila Engkau Dihina Balaslah Dengan Kebaikan dan Doa

Alfatih-media.com-Memang hal ini cukup berat, tapi hal ini merupakan sunnatullah siapapun akan mengalaminya bahkan orang yang paling mulia sekalipun tak lepas dari hinaan yaitu Nabiyullah Muhammad Saw. Maka Imam Syafi’i menyampaikan dalam salah satu sya’irnya, “mencari keridloan manusia sesuatu yang mustahil untuk dicapai” (irdho’u al-naas ghaayatun laa tudrak).

Abu Hanifah tatkala beliau sedang mengajar ditengah saat menyampaikan kajian beliau tiba-tiba ada seseorang yang mencela beliau, namun beliau tidak menoleh sedikitpun kepada pencela tadi juga tidak memotong pembicaanya. Dan, beliau larang para muridnya untuk membentaknya. Setelah selesai mengajar beliau pulang ke rumah dan beliau sampaikan kepada orang yang mencela tadi: “ini rumah saya kalau ada yang belum tersampaikan silahkan disampaikan sehingga tidak ada lagi yang mengganjal di hatimu, maka malulah orang yang mencela dan meminta maaf kepada Abu Hanifah.” (Lihat: Durus Syekh Abu Ishaq al-Huwainy, Jilid: 3/100).

Rasulullah Shallahu A’laihi Wasallam bersabda:

وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ

Bila ada seseorang yang mencaci dan mencelamu dengan aib yang ada padamu, janganlah engkau membalas mencelanya dengan aib yang ada padanya, karena dosanya akan dia tanggung. (H.R. Abu Dawud dalam sunannya, Jilid: 4/98).

Kisah berikutnya tentang seorang Yahudi melintasi Ibrahim bin Adham (W. 162 H) dan bersamanya seekor anjing, lantas orang Yahudi tadi berkata “wahai Ibrahim mana yang lebih suci antara anjing ini atau jenggotmu?

Ibrahim bin Adham menjawab berkata, “wahai kamu orang Yahudi mengapa engkau samakan antara anjing dan jenggot kami? Kemudian beliau melanjutkan, “kalaulah jenggotku nanti berada di surga maka jenggotku ini lebih baik dari anjingmu, tapi kalau jenggot saya berada di dalam neraka maka anjingmu lebih baik dan lebih suci”.
Setelah itu orang yahudi mengucapkan syahadataian (dua kalimat syahadat) dia berkata, “ini tidaklah dilakukan kecuali orang orang yang berakhlak nabi”.

Begitulah ketawadhuan Ibrahim bin Adham sehingga bisa membuat seorang Yahudi masuk islam.

Rasulullah bersabda :

فَوَ اللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِداً، خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

“Demi Allah, jikalau Allah memberi hidayah kepada satu orang dengan sebab dirimu, hal itu benar-benar lebih baik bagimu daripada unta-unta merah.” (H.R. Imam Nasa’i dalam sunannya, Jilid: 5/110). Semoga Allah senantiasa menjaga kita semuanya. (sumber:bincangsyariah)

 

Latest Articles

Comments