Beruntungnya Memiliki Sifat Kerahmanan Allah

Alfatih-media.com-Surat Al-Ashr yang pendek, terdiri dari tiga ayat mengandung begitu banyak makna unuk direnungkan. Surat ini menyebutkan orang orang yang beruntung diantara milyaran manusia yang hidup di bumi ini.

Coba kita simak isi surat ini. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada daam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.”

Jadi ada empat kriteria orang yang beruntung, yakni beriman, beramal saleh, mentaati kebenaran dan selalu dalam keadaan sabar. Selain ini tentunya adalah termasuk orang yang merugi, seperti tidak selalu dalam keadaan sabar atau selalu tergesa-gesa, tidak selalu saling nasihat-menasihati daam kebenaran dan selalu berbuat maksiat, baik dalam hati dan perbuatan. Inilah sebagai lawan dari beriman dan beramal soleh.

Allah Swt berikrar demi masa (demi waktu) yang pendek. Tik, tik, tik…yang akumulasinya menjadi menit, jam, hari, tahun dan seterusnya. Jika kita renungkan, yang detik-detik itulah yang kita jadikan moment keberuntungan, maka setiap saatlah kita akan selalu dalam penjagaan (kedekatan) dengan Allah Ta’ala lewat pikiran dan perbuatan.

Selanjutnya ada empat perkara dalam memaknai nama indah Ar-Rahman Allah Swt menurut Imam Al-Ghazali. Pertama, dengan kerahmanannya Allah menciptakan manusia dengan terebih dahulu menciptakan alam semesta termasuk bumi yang hijau untuk kehidupan manusia agar terpenuhi kebutuhan hidupnya.

Yang kedua Allah mengutus nabi dan rasul dan menurunkan kitab suci untuk menjadi penuntun manusia ke jalan hidup yang benar sesuai dengan kodratnya. Yang ketiga Allah menjanjikan surga sebagai balasan untuk perbuatan baik manusia. Sedangkan yang terakhir yang keempat, Allah menjanjikan pertemuan dengan-Nya.           

Lalu dengan sifat Ar-Rahman Allah Ta’ala yan menjanjikan surga yang abadi sebagai balasan atas perbuatan baik kita selama masa hidup di dunia yang pendek ini, maka kerugian besar sekali yang akan kita tanggung apabila kita meremehkan janji Allah ini. Janji Allah adalah benar, mari kita membuka Al-Quran di ayat ke lima surat Al-Fathir yang berbunyi, “Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar.”

Selanjutnya dengan telah menyediakan berbagai sarana kehidupan manusia dituntut untuk hidup bersahaja sesuai dengan kebuuhannya. Tanah yang tersedia dengan mudah dikelola untuk memperoleh bahan makanan. Begitu juga di lautan telah tersedia ikan-ikan untuk diambil dan dimakan.

Manusia harus selalu menghindar dari sikap dan perbuatan yang tidak mengindahkan aturan (syariat) agama. Seperti model kehidupan sekarang ini yang materialisis. Dimana-mana, terutama di negara kita banyak orang kelaparan dan tidak berpendidikan sebab oleh mahalnya harga makanan dan pendidikan. Oleh sebab kebutuhan material seseorang, kebutuhan dasar orang lain menjadi tidak terpenuhi, padahal syariat agama menuntun agar manusia selalu tolong menolong dan bersikap adil.

Maka manusia yang mau mengambil keuntungan atas kerahmanan Allah yang telah menghamparkan bumi dan langit adalah orang orang yang terus bekerja dan berprinsip bahwa semua yang dilakukannya semata untuk mencari ridha Allah, melaksanakan perintahnya, bukan bekerja dan berusaha untuk menimbun-nimbun harta untuk dibangga banggakan.

Sekarang ini sangat sulit memang menghindari pandangan hidup homogen kita yang telah dikepung oleh materi. Oleh sebab iu, kaum muslimin sebaiknya berinisiatif selalu mengkaji ayat-ayat Al-Quran dengan serius prinsip-prinsip dasar hidup yang benar dan selalu memohon tuntunan batin dari Allah agar kita termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung di hari kemudian.

Manusia yang tidak menimpikan akan bertemu dengan Allah adalah manusia yang merugi. Orang-orang begitu banyak yang ingin bertemu dengan gubernur, presiden dan orang besar lainnya, lalu mengapa dengan Allah kita tidak ingin bertemu?

Maha suci Allah yang ghaib, yang memang tidak bisa kita persepsikan dengan indra kita. Allah ada dan kelak kita akan bertemu dengannya. Sekali lagi mari kita renungkan surat Al-Anam ayat 31 ini. Sungguh telah merugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu. (Nevatuhella, esais/kolumnis)

Latest Articles

Comments