Bencana Alam: Antara Azab dan Tanda Kecintaan Allah kepada Hamba-Nya

Ramai dibicarakan di media sosial bahwa bencana alam yang menimpa beberapa wilayah di Indonesia beberapa waktu lalu adalah akibat murka Allah kepada hambanya.

Tapi ternyata tidak semua bencana itu berarti murka, sebab dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن عظم الجزاء مع عظم البلاء وإن الله تعالى إذا أحب قوما اتبلاهم فمن رضي فله الرضا  ومن سخطه فله السخط

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya besarnya balasan bersamaan dengan besarnya cobaan, dan sesungguhnya Allah ta’ala jika mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka. Jika ia ridha maka baginya keridhaan Allah dan jika murka maka baginya kemurkaan Allah. (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah)

Ujian itu bisa berupa musibah atau bencana alam  yang dialami manusia di dunia. Jika dia bersabar atas musibah dan bencana yang dialaminya maka itu bisa menjadi penghapus dosa-dosanya serta akan dinaikkan derajatnya.

Sebagaimana perkataan Imam Baidhawi yang dikutip oleh al-Zarqani dalam kitab Syarh al-Zarqani ‘Ala Muwatha al-Imam Malik berikut ini

وقال البيضاوي : يوصل إليه المصائب ليطهره من الذنوب ، ويرفع درجته ، وهي اسم لكل مكروه ، وذلك لأن الابتلاء بالمصائب طب إلهي يداوى به الإنسان من أمراض الذنوب المهلكة

Berkata Imam Baidhawi, “Dia membawa kepadanya musibah untuk membersihkannya dari dosa, dan meningkatkan derajatnya, (musibah-musibah) itu merupakan semua yang dibenci, karena penderitaan malapetaka adalah obat ilahi untuk menyembuhkan penyakit manusia dari dosa yang mematikan.”

Jika seorang mukmin bersabar akan kasih sayang yang ditunjukkan Allah lewat musibah yang menimpanya di dunia, jelas Imam Zarqani, maka musibah tersebut akan bernilai ibadah, dimana Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dan meninggikan derajatnya.

Selain itu, disegerakannya musibah di dunia itu merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Sebagaimana dijelaskan Rasul dalam hadis berikut:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا، وإذا أراد الله بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة. رواه الترمذي

Berkata Rasulullah Saw., “Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hamba-Nya maka Allah akan menahan adzab baginya karena dosanya, sampai Allah membalaskannya dengan sempurna di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi)

Ibnu Atsimin dalan Syarh Riyad al-Shalihin menjelaskan hadis di atas, bahwa jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya maka akan disegerakan hukumannya di bumi, baik diuji dengan kehilangan harta, anak, istri atau dirinya sendiri. Cobaan-cobaan itu akan menghapuskan dosa-dosanya. Wallahu’alam. (sumber :bincangsyariah)

 

 

Latest Articles

Comments