Banyak Orang Turki Menghadapi Penolakan Visa Schengen

Alfatih-media.com-Belakangan ini banyak orang Turki kehilangan kesempatan kerja dan pendidikan, tidak dapat mengunjungi teman dan keluarga di luar negeri atau pergi berlibur di Eropa, karena tingkat penolakan visa Schengen telah meningkat hampir lima kali lipat sejak 2014.

Seorang wanita Turki berusia 23 tahun menghadapi kekecewaan berat ketika visanya untuk memasuki Belanda ditolak pada bulan Juli setelah ia berupaya tanpa lelah untuk mendapatkan magang di tempat impiannya. Wanita ini merupakan salah satu dari banyak mahasiswa Turki yang berharap bisa belajar di luar negeri atau magang di perusahaan di Eropa. Harapan ini dihancurkan oleh penolakan visa Schengen.

Seorang siswa yang meminta anonimitas karena bandingnya masih dalam proses, mengatakan kepada TRT World bahwa dia yakin negara-negara Uni Eropa (UE) “menghukum” Turki dengan menutup pintu mereka bagi warga negara Turki karena kekhawatiran yang tidak dapat dibenarkan.

“Masalah visa tampaknya telah berubah menjadi senjata dan mereka tidak segan-segan mengorbankan warga Turki,” katanya.

Tingkat penolakan visa Schengen untuk warga negara Turki telah melonjak hampir lima kali lipat sejak 2014, menurut statistik visa Schengen. Pada tahun 2021, setidaknya 239.099 orang dari Turki mengajukan formulir visa Schengen dan 30.444 ditolak. Tingkat penolakan lebih dari 16,5 persen dibandingkan dengan 4 persen pada tahun 2014.

Menurut sebuah laporan yang disampaikan oleh Turki kepada Majelis Parlemen Dewan Eropa (PACE), negara-negara Uni Eropa sengaja mempersulit proses visa. Orang-orang Turki telah melaporkan bahwa mereka menghadapi antrian panjang untuk slot aplikasi terbatas, biaya aplikasi tinggi yang tidak dapat dikembalikan, dan waktu pemrosesan yang lebih lama karena pengawasan yang lebih tinggi.

Sebagian besar negara juga tidak memiliki slot janji temu yang tersedia dan mereka yang membutuhkan waktu lama untuk memproses aplikasi atau hanya menolaknya, lapor SchengenVisaInfo.com. Dari 26 negara Schengen, Finlandia adalah yang paling mungkin menolak pemohon dari Turki pada tahun 2021 sebesar 39,45 persen, diikuti oleh Norwegia pada 38,4 persen, Belanda pada tingkat 26,7 persen dan Swedia pada 26,2 persen.

Alasan kecuriagaan

Alasan penolakan visa seringkali tampak tidak dapat dibenarkan bagi pemohon. Salah satu alasan paling umum untuk penolakan visa adalah bahwa pemohon memberikan penjelasan yang tidak memadai tentang tujuan dan keadaan dari rencana masa tinggal mereka. Dengan kata lain ada “kecurigaan” atas pemohon yang memperpanjang durasi visa mereka.

Tetapi kecurigaan ini sering kali tampaknya didasarkan pada interpretasi subjektif dari situasi kandidat karena dokumen untuk membuktikan sebaliknya sering diabaikan.

Misalnya kasus mahasiswa Turki berusia 23 tahun yang ingin magang selama dua bulan di Institut Sejarah Sosial Internasional Belanda sebagai bagian dari program pertukaran mahasiswa Uni Eropa Erasmus.

Meskipun aplikasi visanya berisi banyak dokumen resmi untuk mendukung kasusnya – seperti hibah Erasumus, perjanjian kerja dari institusi dan perjanjian belajar Erasmus – Belanda menyatakan alasan “tujuan masuk ke negara itu tidak disebutkan dengan jelas”.

Surat penolakannya juga menjelaskan bahwa Belanda memiliki keraguan bahwa dia akan kembali ke Turki ketika masa magangnya berakhir, bahkan secara khususnya menekankan migrasi ilegal.

“Saya juga sudah memasukkan penerimaan master saya di SOAS University of London. Bahkan ini adalah bukti bahwa saya akan kembali, tetapi saya tidak berpikir petugas visa memeriksa arsip warga Turki dengan benar,” katanya.

“Meskipun tujuan saya pergi adalah Erasmus dan saya telah memasukkan banyak dokumen tentang itu, saya menemukan jawaban seolah-olah tujuan saya pergi tidak jelas, seolah-olah saya bercanda,” tambahnya.

Orang Turki lainnya yang mengalami situasi serupa, tentang rasa frustrasi mereka karena kehilangan kesempatan kerja dan pendidikan, tidak dapat mengunjungi teman dan keluarga di luar negeri atau pergi berlibur.

Meskipun telah belajar di Swedia untuk Erasmus dan telah mengunjungi wilayah Schengen secara teratur selama dua tahun, Hazal, yang ingin merahasiakan nama keluarganya, ditolak visanya ketika dia melamar visa tahun ini pada bulan Januari. Negara Eropa juga menemukan “tidak cukup alasan” bagi Hazal untuk kembali ke Turki, meskipun telah melakukannya beberapa kali di masa lalu.

“Jadi itu menyiratkan bahwa saya sangat putus asa dan negara mereka terbuat dari emas dan perak jadi saya harus tinggal di sana. Ini menyiratkan bahwa saya akan melanggar hukum dan peraturan untuk tinggal di sana. Tidak, saya tidak ingin tinggal di sana. Saya senang dengan pekerjaan saya, dan hidup saya di sini,” katanya

Hazal mengatakan, penolakan itu sangat mengecewakan ketika dia melihat “dua wajah” negara-negara Schengen hadir ke dunia dengan mengkhotbahkan kebebasan bergerak dan hak-hak individu, namun membuat orang Turki menjauh. “Saya terkejut melihat bahwa semua ini pada akhirnya adalah kebohongan atau ini hanya untuk orang-orang mereka sendiri,” tambahnya.

Selain menguras emosi, mengajukan visa Schengen juga membebani dompet pemohon. Biaya standar aplikasi yang tidak dapat dikembalikan sebesar USD 80 untuk orang dewasa dan USD 40 untuk anak-anak usia 6-12, menurut situs Visa Schengen. (berbagai sumber)

Latest Articles

Comments