Ayah (bagian 2)

Oleh: Nevatuhella

“Kalian harus sekolah. Sekolah dan sekolah hingga ke universitas. Biar lapar sedikit tak mengapa, asal ilmu bertambah.” Selalu ditegaskan hamdan pada anak-anaknya.

Tiga tahun kemudian, Hayani sudah menjadi mahasiswa di salah stau perguruan tinggi negeri. Ia telah membuktikan dan mengembalikan harga diri keluarganya yang selama ini selalu disebut sebagai keluarga tak tahu diuntung. “Bagaimana mau sekolah, makan saja tak cukup!” Ini yang selalu diucapkan tetangga, bahkan  juga dari mulut keluarga.

Hamdan sudah mencapai usia setengah abad. Belum berhasil pindah keluar dari rumah kontrakannya. Pergaulannya di tengah masyarakat semakin baik. Tapi ada saja godaan buruk yang datang. Pernah suatu kali seorang laki-laki bertampang pemborong  datang dari ibukota provinsi menawarinya proyek pengadaan sampan nelayan bermesin daya rendah. Bermesin kukuran kelapa, istilah populernya mesin tempel.

Hamdan paham mereka akan menjebaknya. Tawaran itu menyuruh Hamdan mendata sepupu-sepupunya yang nelayan. Termasuk memasukkan namanya dalam daftar, walaupun ia bukan nelayan. Hamdan hanyalah tukang bolo atau pakal bot yang rusak, serta mencatnya. “Mereka akan menjebak ayah!” Fairy gemetaran lagi mendengar istilah ini.

Akhirnya karena nama Hamdan tidak disertakan, uang bantuan kredit pembuatan sampan nelayan ini gagal. Beberapa sepupunya membencinya. Menuduhnya sok alim, sok hebat, sok kaya dengan rumah papan kontrakannya. Tapi ada juga yang menyebelahi abangnya ini, mengatakan, “Itu hak Abah Hamdan. Lagi pula ia memang bukan nelayan seperti kita. Mengapa dipaksakan?”

Beberapa waktu kemudian, sungai yang ada di daerah tempat Fairy dan keluarganya tinggal diperkecil dengan beton. Biasanya lebar sungai dipenuhi air pada pasang mati sekalipun sekitar 15 meter. Kini, tinggal tiga meter. Tanya punya tanya rupanya proyek pembetonan kiri kanan sungai ini dikerjakan oleh Kepling, karena tak ada proyek lain yang cocok untuk dilakukan. Hamdan marah besar. Hayani yang sudah mendapat gelar Sarjana Muda turun tangan. Tetapi, tidak berhasil.

Kepling mencak-mencak atas gugatan Hamdan dan Hayani yang menyebut pembetonan kiri kanan sungai merusak lingkungan. Sungai di manfafatkan.

Karena faktor usia dan gerogotan ususnya yang terus menerus mengonsumsi obat reumatik, Hamdan semakin lemah. Tiga orang anaknya telah menjadi sarjana. Fairy, si lemah jiwa tapi kuat tekad, salah satunya. Walaupun ia harus pernah menjadi pasien psikiater, karena selalu merasa cemas dan ketakutan. Hantu segala hantu mengambil tempat di ghost spot dalam otaknya.

Ketika Hamdan sedang menghadapi sakratul maut, pada sore usai melaksanakan salat Asar dengan isyarat-isyarat saja, semua anak, cucu, istri dan keluarga dekat mengelilinginya. Sedu sedan masih tertahan. Fairy dengan kekuatan ghaib berada di sisi kepala Hamdan. Tidak biasanya demikian. Mendengar berita kematian saja ia selalu hampir pingsan. Apalagi jeritan-jeritan, sekalipun itu suara di televisi.

Hamdan mengatakan, “Sebentar lagi malaikat akan datang menjeputnya. Tak usah semua bersedih.”

Mendengar ini isak dan sedu sedan yang ditahan tumpah keluar dengan lirih. Kesedihan yang sangat mendalam bagi semuanya. Ayah yang sangat dicintai oleh anak-anaknya. Atok yang disayangi semua cucunya. Keluarga yang sebenarnya dalam hati sangat mengagumi Hamdan dengan perjuangannya menegakkan kebenaran dengan landasan agama.

“Tak perlu kalian bersedih. Kematian ini sangat menyenangkan, asal kita berada di jalan yang lurus. Fairy, kuatkan jiwamu. Ingat, selalu berada di jalan yang lurus, nak.” Kemudian Hamdan menyebut satu persatu anaknya masing-masing dengan sebilah kata nasihat. Selly yang menjadi guru, jadilah guru yang berada di jalan yang lurus. Hayani yang apoteker, jangan pernah salah meresep obat. Selalulah berada di jalan yang lurus.

Sore itu dengan wajah muda belia dan suara tak patah kalam, Hamdan menghembuskan nafasnya terakhir. Seisi ruangan terasa menyebarkan harum. Malaikat membawa ruh suci Hamdan.

“Asal kita berada di jalan yang lurus, mati ternyata enak dan menyenangkan.  Ayah telah mengelupas semua rasa takut akan kematian yang selama ini membuat aku naif dan jauh dari realitas. Siapa tak takut kalau dikatakan seringan-ringan rasa sakratul maut, seperti rasa kambing dikuliti hidup-hidup. Ternyata malaikat dengan lembut mengambil nyawa ayah dari ubun-ubunnya. Tidak dari ujung kaki. Ini karena ayah memilih jalan yang lurus dalam hidupnya.” Rapalan Fairy menghidupkan semangatnya.

“Fairy Nathassa Lovely...Fairy Molena Svetloka...Fairy Zairi Hamdani Rahmadini..”

Begitu jelas kalimat panggilan dan terikan ayahnya waktu itu ketika Fairy dicari-cari ayahnya. Tiga nama yang pernah disematkan Hamdan pada Fairy yang kulitnya sehalus salju ini. Namun tubuh ringkihnya sejak remaja tak sanggup membawa nama itu dipundaknya. Telalu berat.

Waktu itu sejak siang sepulang dari psikiater, Fairy merenung di tepi sungai. Sebagaimana yang ditakutkan Hamdan sekaligus Fairy sendiri, kalau-kalau putri kesayangannya ini nekad melemparkan tubuhnya ke arus sungai deras berbatu itu. (selesai)

*Nevatuhella. Lahir di Medan, 1961. Alumnus Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara. Buku ceritanya yang telah terbit Perjuangan Menuju Langit (2016) dan Bersampan ke Hulu (2018) serta satu buku puisi Bila Khamsin Berhembus (2019).

 

Latest Articles

Comments