Antara Puasa dan Takwa

#Hikmah Ramadhan#

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution, Lc

Alfatih-media.com-Setiap kali Ramadhan, kita kerap disuguhi nasehat oleh para penceramah bahwa puasa yang dijalankan selama sebulan ini bertujuan untuk membentuk kita menjadi mukmin yang bakal meraih predikat takwa. Sebagaimana yang dimaktubkan di dalam al-Qur’an, “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). 

Seringnya, kita hanya disuguhkan tentang pengertian takwa dan karakter orang yang bertakwa lewat aktivitas puasa. Padahal, kebanyakan kita akan lebih termotivasi menjadi orang yang bertakwa, ketika tahu apa saja yang bakal diperoleh jika sudah menjadi orang yang bertakwa. Sama seperti ketika kita ingin menunaikan ibadah-ibadah sunnah yang dilakukan di Ramadhan akan lebih membuat kita termotivasi, ketika tahu ganjaran apa yang diberikan Allah SWT.

Jika demikian, adakah di dalam al-Qur’an dijelaskan seperti apa keuntungan yang didapat seorang mukmin jika sudah mendapat predikat takwa? Jawabannya, ada. Sebab, al-Qur’an adalah kitab suci yang lengkap dan dihadirkan Allah SWT semata-mata untuk menjadi petunjuk dan pembeda antara yang benar dan salah. 

Bila dikaji di dalam al-Qur’an, paling tidak, ada empat ayat yang menjelaskan keberuntungan yang didapat orang yang bertakwa. Pertama, diberikan Allah jalan keluar atau solusi atas masalah yang dihadapi dan diluaskan Allah rezekinya. Hal ini sebagaimana tertera di dalam surat At-Thalaq ayat 2 dan 3, “Siapa yang bertakwa kepada Allah akan diberikan-Nya jalan keluar (solusi) dan diberi-Nya rezeki yang tak disangka-sangka.” Karena itu, para ulama kerap menjadikan puasa sebagai salah satu ibadah yang dianjurkan untuk dilakukan orang yang sedang mengalami masalah.

Bahkan, para ulama fikih sepakat menyatakan bahwa orang yang ingin menikah tapi tidak punya biaya, sangat dianjurkan untuk berpuasa. Tujuannya, agar dapat mengekang nafsunya. Ketika mampu mengekang nafsu, biasanya di saat itulah muncul rezeki yang tak disangka-sangka yang diberikan Allah SWT. 

Karena itu, betapa bersyukurnya kita yang saat ini diizinkan Allah bisa menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Jika pun ada kesulitan atau problem yang dihadapi, Insya Allah di saat sedang menjalankan ibadah puasa seperti saat ini akan diberikan Allah jalan keluar atau solusi atas masalah yang dihadapi.

Kedua, diberi kelancarkan setiap urusan yang dilalui. Hal ini sebagaimana dijelaskan Allah SWT, “Siapa yang bertakwa kepada Allah SWT dijadikan-Nya setiap urusan yang dikerjakan dapat dilakukan dengan mudah.” (QS. Ath-Thalaq: 4) Inilah kenikmatan yang kurang disadari oleh kebanyakan orang yang beriman. Padahal, keadaan seperti ini sudah sering dan bahkan berulang kali dialami. Setiap kali Ramadhan tiba, rezeki yang diberikan Allah SWT selalu berlebih. Apa pun yang menjadi kebutuhan Ramadhan selalu bisa terpenuhi. Padahal, logika kita terkadang tidak mengetahui dari mana jalur rezeki tersebut datang sehingga bisa memenuhi kebutuhan.

Ketiga, diampuni dosa-dosa yang telah lalu dan ditambahkan kebaikan. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah SWT, “Siapa yang bertakwa kepada Allah SWT akan dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu dan diberikan pahala yang besar.” (QS. Ath-Thalaq: 5) Inilah keistimewaan yang luar biasa yang didapat orang yang bertakwa. Sehingga puasa yang dilakukan dengan tujuan untuk meraih predikat takwa benar-benar memuliakan orang yang beriman di sisi Allah SWT. Persis seperti firman-Nya, “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah orang yang bertakwa.” (QS. Al-Hujarat: 13)

Keempat, amal ibadah yang diterima Allah hanyalah amal ibadah orang yang bertakwa. Allah SWT berfirman,”Sesungguhnya ibadah yang diterima Allah SWT hanyalah ibadah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27) Demikian halnya juga dengan puasa yang kita lakukan saat ini. Jika ingin diterima Allah, mari bentuk diri kita menjadi pribadi yang bertakwa. Pertanyaannya sekarang, bagaimana bisa mencapai predikat takwa lewat puasa yang sedang kita jalankan saat ini?

Menurut Dr.  Sulaiman bin Qasim  bin Muhammad  al-‘iid di dalam maqalahnya yang berjudul “Al-Ghaayah  min ash-Shaum”,  ada tiga hal yang bisa kita lakukan agar puasa yang dilakukan bisa meraih takwa. Pertama, pahamilah hakikat puasa dengan sebenarnya. Rasulullah SAW sudah bersabda, “Puasa adalah perisai”. Perisai artinya alat membenteng diri. Puasa memang bisa menjadi pembenteng diri kita dari kejahatan-kejahatan yang didorong oleh nafsu. Ketika kita bisa menundukkan nafsu, sejatinya kita menjadi raja atas diri kita. Karena itu, hendaklah kita jaga puasa yang dilakukan dengan sebaik-baiknya, sehingga kita menjadi orang yang bertakwa.

Kedua, perkecil peluang melakukan kemaksiatan. Dengan menjalankan ibadah puasa di Ramadhan ini saatnya kita memperkecil peluang melakukan kemaksiatan. Sebab puasa yang dijadikan perisai mampu menghambat pergerakan setan yang bergerak melalui aliran darah. Makanya, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila telah datang bulan Ramadhan dibuka surga selebar-lebarnya, ditutup serapat-rapatnya pintu neraka dan dibelenggu setan.” Puasa yang membimbing kita menjadi pribadi takwa tersebut yang membelenggu setan sehingga tidak bisa mengganggu kita kita dengan leluasa.

Ketiga, perbanyak melakukan ketaatan. Dengan ketaatan yang kita lakukan di Ramadhan,   yang dimulai dengan melakukan ibadah puasa hingga melakukan amal-amal sunnah lainnya seperti shalat tarawih, baca al-Qur’an, i’tikaf dan lain-lain akan membuat kita menjadi pribadi yang bertakwa.

Plus, ditambah lagi dengan menjauhi yang dapat membatalkan pahala puasa. Rasulullah SAW bersabda, “Ada lima yang dapat membatalkan pahala puasa: berbohong, menceritakan aib orang lain, mengadu domba, bersumpah palsu dan melihat dengan syahwat.” Dengan melakukan tiga langkah tersebut akan membentuk kita menjadi pribadi yang bertakwa, baik saat di bulan Ramadhan maupun pasca Ramadhan. Tak pelak lagi, ketika selesai Ramadhan kita benar-benar menjadi pribadi suci, baik secara lahir dan bathin.            

(Penulis adalah Sekretaris Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kota Medan)

 

Latest Articles

Comments